Senin, 17 November 2014
penyakit infeksi
ARTIKEL MENGENAI PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH JAMUR, BAKTERI, VIRUS DAN CACING
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa kita haturkan kehadirat Tuhan yang maha Esa atas limpahan berkah, rahmat serta inayahnya-lah sehingga kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan TUGAS pengganti FINAL dari mata kuliah “Agen Penyakit Menular” dengan judul ‘Penyakit yang disebabkan oleh Jamur, Bakteri, Virus dan Cacing’ yang diberikan oleh dosen pembimbing, kakanda Zhelfina Ummi Muslimah, S.pd, M.kes.
Dalam penyusunan Tugas ini, penulis hanya mengambil referensi baik dari buku-buku yang ada maupun dari internet. Oleh sebab itu, penulis sadar sepenuhnya akan kekurangan-kekurangan dalam penyusunannya sehingga penulis mengharapkan saran serta kritikan yang sifatnya konstruktif demi perbaikan tugas selanjutnya.
Akhirnya tiada kata yang patut penulis ucapkan selain ucapan syukur dan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Dosen pembimbing Kakanda Zhelfina Ummi Muslimah, S.pd, M.kes atas kesediaannya memberikan kebijakan kepada penulis sebagai suatu upaya agar mendapatkan nilai tambahan yang tiada lain untuk bisa memenuhi kriteria dalam mengikuti KKN/KKP.
Makassar, 26 Januari 2012
Penulis
PENYAKIT AKIBAT JAMUR
a. Keputihan
Keputihan Patologis, merupakan keputihan yang tidak normal yang terjadi karena infeksi pada vagina, adanya benda asing pada vagina atau karena keganasan. Infeksi bisa sebagai akibat dari virus, bakteri, jamur, dan parasit bersel satu Trichomonas vaginalis. Dapat pula disebabkan oleh iritasi karena berbagai sebab seperti iritasi akibat bahan pembersih vagina, iritasi saat berhubungan seksual, penggunaan tampon, dan alat kontrasepsi. Infeksi virus, bakteri, dan parasit bersel satu umumnya didapatkan saat melakukan aktivitas seksual.
Keputihan ini berupa cairan berwarna kekuningan hingga kehijauan, jumlahnya banyak bahkan bisa sampai keluar dari celana dalam, kental, lengket, berbau tidak sedap atau busuk, terasa sangat gatal atau panas, dan menimbulkan luka di daerah mulut vagina. Keputihan jenis ini harus diwaspadai mengingat dapat menjadi salah satu indikasi gejala adanya kanker leher rahim. Oleh karena itu, keputihan patologis harus dicari penyebabnya dan diobati secara adekuat sejak dini.
b. Panu dan Kudis
Panu dan Kudis disebabkan oleh jamur mikroskopis. Jamur bertahan dengan hidup dari sel-sel kulit mati kita. Sebagian besar waktu, organisme ini tidak berbahaya. Tapi jamur bisa menjadi masalah ketika mereka berkembang biak dengan cepat.
c. Penyakit histoplasmosis
Penyebab dari histoplasmosis adalah terpaparnya seseorang oleh jamur yang diberi nama Histoplasma capsulatum. Jamur ini terutama sering berada pada kandang ayam dan merpati, lumbung tua, taman dan gua yang merupakan tanah basah yang kaya bahan organik, terutama kotoran dari burung dan kelelawar.
Suhu tubuh burung yang terlalu tinggi, menyebabkan burung tidak dapat terinfeksi dengan histoplasmosis, namun burung dapat membawa H. capsulatum di bulu mereka. Selain itu, kotoran burung dapat mendukung pertumbuhan jamur. Kelelawar memiliki suhu tubuh lebih rendah dan dapat terinfeksi, namun seseorang tidak dapat terjangkit penyakit ini dari kelelawar atau dari orang lain.
d. Viginitas
Penyakit Vagina yang disebabbkan oleh jamur dan bakteri. Jenis bakteri penyebab penyakit ini adalah bakteri Clhamydia dan Gonorrhea. Walaupun jenis bakteri ini kurang berbahaya, namun bakteri ini dapat menetap menimbulkan penyakit.
e. Kutu Kelamin
Penyakit yang seperti kutu di rambut kepala yang berwarna kelabu dan kecoklatan. Memiliki ukuran tubuh sekitar satu per delapan inci yang tinggal diantara rambut-rambut kemaluan.
f. Kutu kelamin dibawah kulit Kelamin
Kutu ini lebih kecil disbanding kutu kelamin, dan kutu ini sangat berbahaya hingga akan membuat saran dibawah kulit kelamin yang akan menyebabkan gatal-gatal dan akan membuat luka disekitarnya.
Banyak sekali hal – hal yang dapat menyebabkan keputihan patologis, tapi umumnya disebabkan oleh infeksi saluran reproduksi. Infeksi tersebut dapat berasal dari:
a. Jamur Candida atau Monilia
Keputihan akibat jamur ini akan berwarna putih susu, kental, berbau agak keras, disertai rasa gatal yang dominan pada vagina. Akibatnya, mulut vagina menjadi kemerahan dan meradang. Keputihan ini biasanya dipicu oleh kehamilan, penyakit kencing manis, pemakaian pil KB, dan rendahnya daya tahan tubuh. Bayi yang baru lahir juga bisa tertular keputihan akibat jamur Candida ini karena tanpa sengaja tertelan cairan ibunya yang adalah penderita saat persalinan.
b. Parasit Trichomonas Vaginalis
Ditularkan terutama lewat hubungan seks sehingga termasuk salah satu dalam Penyakit Menular Seksual (PMS), namun selain hal itu juga dapat lewat perlengkapan mandi, atau bibir kloset yang telah terkontaminasi. Cairan keputihan sangat kental, berbuih, berwarna kuning atau kehijauan dengan bau anyir. Keputihan karena parasit ini tidak menyebabkan gatal, tapi nyeri bila liang vagina ditekan.
c. Bakteri Gardnella
Sebagian besar wanita yang mengalami infeksi vagina bakterial tanpa gejala – gejala berarti disebabkan oleh bakteri ini. Keputihan biasanya encer, berwarna putih keabu-abuan, berair, berbuih, dan berbau amis (fishy odor). Bau akan lebih menusuk setelah melakukan hubungan seksual dan menyebabkan darah menstruasi berbau tidak enak. Jika ditemukan iritasi daerah vagina seperti gatal biasanya bersifat lebih ringan daripada keputihan yang disebabkan oleh Candida albicans atau Trichomonas vaginalis.
d. Blastomikosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cendawan dimorfik Blastomyces dermatitidis. Cendawan B. dermatitidis banyak ditemukan di tanah yang mengandung sisa-sisa bahan organik dan kotoran hewan. Ketika konidia (salah satu bagian tubuh) dari B. dermatitidis terhirup oleh manusia maka akan terjadi perubahan bentuk dari miselium menjadi khamir dan sistem imun manusia tidak sempat menghasilkan respon imun terhadap perubahan tersebut. Agen penyakit akan menyebar melalui sistem limfa dan aliran darah. Gejala penyakit ini sangat bervariasi karena banyak sistem organ yang berperan dalam penyebarannya. Namun, beberapa gejala yang paling sering diperiksakan adalah gejala yang berkaitan dengan manifestasi pulmonari, lesi pada kulit yang tidak sembuh, lesi tulang yang seringkali tanpa rasa sakit, dan gejala yang berkaitan dengan sistem genitouorinari (urogenital). Uji keberadaan infeksi dalam tubuh dapat dilakukan dengan biopsi jaringan tubuh untuk mengkultur dan melihat histopatologinya, mengambil sampel dari sekresi (pembuangan) sisa kotoran tubuh dan jaringan.
e. Kandidiasis
adalah infeksi spesies Candida, dengan Candida albicans sebagai penyebab yang paling banyak ditemui.
f. Kriptokokosis adalah infeksi yang diterima oleh pernapasan pada tanah yang terkontaminasi oleh fungi Cryptococcus neoformans. Kriptokokosis adalah infeksi oportunistik yang terjadi untuk AIDS. Penyakit ini didistribusikan ke seluruh dunia. Jumlah kriptokokosis meningkat selama 20 tahun terakhir untuk banyak alasan, termasuk meningkatnya insiden AIDS.
g. Panau atau Pitriyasis versikolor merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur. Penyakit panau ditandai oleh bercak yang terdapat pada kulit disertai rasa gatal pada saat berkeringat. Bercak-bercak ini bisa berwarna putih, coklat atau merah tergantung kepada warna kulit penderita. Jamur yang menyebabkan panau adalah Candida Albicans. Panau paling banyak dijumpai pada remaja usia belasan. Meskipun begitu panau juga bisa ditemukan pada penderita berumur yang lebih tua atau lebih muda. Penyakit ini biasanya menyerang kulit di daerah yang menghasilkan banyak keringat. Biasanya panau terdapat pada bagian atas dada, lengan, leher, perut, kaki, ketiak, lipatan paha, muka dan kepala. Panau terutama ditemukan di daerah yang lembap dan dilindungi pakaian.
h. Pneumonia pneumocystis (PCP) adalah bentuk pneumonia yang disebabkan oleh fungi Pneumocystis jirovecii. Agen yang menyebabkan pneumonia ini dideskripsikan sebagai protozoa dan disebut P. jiroveci.[1][2] Nama tersebut didiskusikan dan hasilnya, pneumonia pneumosistis juga diketahui sebagai pneumonia pneumosistis jiroveci dan sebagai pneumonia pneumosistis carinii, yang juga dijelaskan.
PENYAKIT AKIBAT BAKTERI
Leptospirosis adalah penyakit akibat bakteri Leptospira sp. yang dapat ditularkan dari hewan kemanusian atau sebaliknya (zoonosis). Leptospirosis dikenal juga dengan nama Penyakit Weil, Demam Icterohemorrhage, Penyakit Swineherd's, Demam pesawah (Ricefield fever), Demam Pemotong tebu (Cane-cutter fever), Demam Lumpur, Jaundis berdarah, Penyakit Stuttgart, Demam Canicola, penyakit kuning non-virus, penyakit air merah pada anak sapi, dan tifus anjing.
Infeksi dalam bentuk subakut tidak begitu memperlihatkan gejala klinis, sedangkan pada infeksi akut ditandai dengan gejala sepsis, radang ginjal interstisial, anemia hemolitik, radang hati dan keguguran. Leptospirosis pada hewan biasanya subklinis. Dalam keadaan ini, penderita tidak menunjukkan gejala klinis penyakit. Leptospira bertahan dalam waktu yang lama di dalam ginjal hewan sehingga bakteri akan banyak dikeluarkan hewan lewat air kencingnya. Leptospirosis pada hewan dapat terjadi berbulan-bulan sedangkan pada manusia hanya bertahan selama 60 hari. Manusia merupakan induk semang terakhir sehingga penularan antar manusia jarang terjadi.
a. Penyakit TBC
Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.
Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.
Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.
Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.
b. Penyakit Maag
Penyakit Maag adalah penyakit yang ditimbulkan oleh kelebihan asam yang diproduksi oleh lambung yang menyebabkan iritasi di selaput lendir lambung. Dalam kondisi normal asam diperlukan untuk membantu pencernaan dalam mengolah makanan yang kita makan. Namun produksi asam di lambung dapat lebih besar dari yang dibutuhkan bila pola hidup kita tidak teratur dan tidak sehat, misalnya :
makan tidak teratur atau terlalu cepat
makan makanan yang terlalu pedas dan berminyak
Merokok dan banyak minum kopi/alcohol serta stress yang berlebihan.
Selain akibat gangguan keasaman lambung ada peran organisme renik yaitu bakteri Helicobacter pylori sebagai penyebab lain dari sakit maag. Bakteri ini mempunyai sifat luar biasa. Jika bakteri lain mati pada suasana asam dalam lambung, Helicobacter pylori mampu bertahan hidup bahkan berkembang biak. Kuman Helicobacter pylori dapat mengiritasi dinding lambung, sehingga menimbulkan peradangan dan luka (ulkus). Akibat dinding lambung mengalami perlukaan, penderita akan merasakan perih di bagian ulu hati.
c. Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak Infiltrat. Bronchopneumina adalah frekwensi komplikasi pulmonary, batuk produktif yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan meningkat). Bronchopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh bakteri,virus, jamur dan benda asing.
Etiologi
Bakteri : Diplococus Pneumonia, Pneumococcus, Stretococcus Hemoliticus Aureus, Haemophilus Influenza, Basilus Friendlander (Klebsial Pneumoni), Mycobacterium Tuberculosis.
d. Penyakit Legiuner atau yang juga dikenal dengan Demam Legiun adalah bentuk yang lebih parah dari pneumonia atau peradangan paru-paru. Di Indonesia sendiri penyakit ini belum begitu populer, dan pertama kali terjadi di Philadelphia, Amerika Serikat. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyakit ini, berikut penjelasannya.
Wabah penyakit legiuner pertama kali terjadi pada 27 Juli 1976, ketika banyak orang menghadiri konvensi dari Legiun Amerika di Hotel Bellevue-Stratford di Philadelphia. Legiuner disebabkan oleh jenis bakteri yang dikenal dengan nama Legionella.
Bakteri Legionella ditemukan secara alami di lingkungan, biasanya dalam air. Bakteri tumbuh terbaik di air hangat, seperti jenis yang ditemukan di kolam air panas, menara pendingin, tangki air panas, sistem pipa besar, atau bagian dari sistem pendingin udara bangunan besar.
Apa saja gejala penyakit legiuner?
Penyakit legiuner dapat memiliki gejala seperti bentuk lain dari pneumonia, sehingga akan sulit untuk mendiagnosis pada awalnya. Tanda-tanda penyakit ini dapat mencakup: demam tinggi, menggigil, dan batuk. Beberapa orang mungkin juga menderita dari sakit otot dan sakit kepala. Gejala ini biasanya mulai 2 sampai 14 hari setelah terkena bakteri. Infeksi ringan disebabkan oleh sejenis bakteri Legionella disebut Pontiac Fever. Gejala Demam Pontiac biasanya berlangsung selama 2 sampai 5 hari dan mungkin juga termasuk demam, sakit kepala, dan nyeri otot, namun tidak ada pneumonia. Gejala pergi sendiri tanpa pengobatan dan tanpa menimbulkan masalah lebih lanjut. Demam Pontiac dan penyakit legiuner juga dapat disebut "Legionellosis" (Lee-juh-ti-low-sis) secara terpisah atau bersama-sama.
e. Penyakit Meningitis
1. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus). Bakteri ini yang paling umum menyebabkan meningitis pada bayi ataupun anak-anak. Jenis bakteri ini juga yang bisa menyebabkan infeksi pneumonia, telinga dan rongga hidung (sinus).
2. Neisseria meningitidis (meningococcus). Bakteri ini merupakan penyebab kedua terbanyak setelah Streptococcus pneumoniae, Meningitis terjadi akibat adanya infeksi pada saluran nafas bagian atas yang kemudian bakterinya masuk kedalam peredaran darah.
3. Haemophilus influenzae (haemophilus). Haemophilus influenzae type b (Hib) adalah jenis bakteri yang juga dapat menyebabkan meningitis. Jenis virus ini sebagai penyebabnya infeksi pernafasan bagian atas, telinga bagian dalam dan sinusitis. Pemberian vaksin (Hib vaccine) telah membuktikan terjadinya angka penurunan pada kasus meningitis yang disebabkan bakteri jenis ini.
4. Listeria monocytogenes (listeria). Ini merupakan salah satu jenis bakteri yang juga bisa menyebabkan meningitis. Bakteri ini dapat ditemukan dibanyak tempat, dalam debu dan dalam makanan yang terkontaminasi. Makanan ini biasanya yang berjenis keju, hot dog dan daging sandwich yang mana bakteri ini berasal dari hewan lokal (peliharaan).
5. Bakteri lainnya yang juga dapat menyebabkan meningitis adalah Staphylococcus aureus dan Mycobacterium tuberculosis.
Berdasarkan bentuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:
Kokus (Coccus) dalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola dan mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:
Mikrococcus, jika kecil dan tunggal
Diplococcus, jka berganda dua-dua
Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujur sangkar
Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus
Staphylococcus, jika bergerombol
Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai
Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai variasi sebagai berikut:
Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua
Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai
Spiral (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai berikut:
Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran (bentuk koma)
Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran
Spirochete, jika lengkung membentuk struktur yang fleksibel.
Bentuk tubuh/morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium, dan usia. Walaupun secara morfologi berbeda-beda, bakteri tetap merupakan sel tunggal yang dapat hidup mandiri bahkan saat terpisah dari koloninya.
Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang dimiliki, bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu:
Atrik, tidak mempunyai flagel.
Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.
Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.
Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.
Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.
PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH VIRUZ
a. Penyakit Cacar (Herpes)
Penyakit Cacar atau yang disebut sebagai 'Herpes' oleh kalangan medis adalah penyakit radang kulit yang ditandai dengan pembentukan gelembung-gelembung berisi air secara berkelompok. Penyakit Cacar atau Herpes ini ada 2 macam golongan, Herpes Genetalis dan Herpes Zoster. Herpes Genetalis adalah infeksi atau peradangan (gelembung lecet) pada kulit terutama dibagian kelamin (vagina, penis, termasuk dipintu dubur/anus serta pantat dan pangkal paha/selangkangan) yang disebabkan virus herpes simplex (VHS), Sedangkan Herpes Zoster atau dengan nama lain 'shingles' adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster yang menimbulkan gelembung cairan hampir pada bagian seluruh tubuh.
Herpes zoster juga dikatakan penyakit infeksi pada kulit yang merupakan lanjutan dari pada chickenpox (cacar air) karena virus yang menyerang adalah sama, Hanya terdapat perbedaan dengan cacar air. Herpes zoster memiliki ciri cacar gelembung yang lebih besar dan berkelompok pada bagian tertentu di badan, bisa di bagian punggung, dahi atau dada.
Cara Penularan Penyakit Cacar (Herpes).
Secara umum, seluruh jenis penyakit herpes dapat menular melalui kontak langsung. Namun pada herpes zoster, seperti yang terjadi pada penyakit cacar (chickenpox), proses penularan bisa melalui bersin, batuk, pakaian yang tercemar dan sentuhan ke atas gelembung/lepuh yang pecah. Pada penyakit Herpes Genitalis (genetalia), penularan terjadi melalui prilaku sex. Sehingga penyakit Herpes genetalis ini kadang diderita dibagian mulut akibat oral sex. Gejalanya akan timbul dalam masa 7-21 hari setelah seseorang mengalami kontak (terserang) virus varicella-zoster.
Seseorang yang pernah mengalami cacar air dan kemudian sembuh, sebenarnya virus tidak 100% hilang dari dalam tubuhnya, melainkan bersembunyi di dalam sel ganglion dorsalis sistem saraf sensoris penderita. Ketika daya tahan tubuh (Immun) melemah, virus akan kembali menyerang dalam bentuk Herpes zoster dimana gejala yang ditimbulkan sama dengan penyakit cacar air (chickenpox). Bagi seseorang yang belum pernah mengalami cacar air, apabila terserang virus varicella-zoster maka tidak langsung mengalami penyakit herpes zoster akan tetapi mengalami cacar air terlebih dahulu.
Tanda dan Gejala Penyakit Cacar (Herpes).
Tanda dan gejala yang timbul akibat serangan virus herpes secara umum adalah demam, menggigil, sesak napas, nyeri dipersendian atau pegal di satu bagian rubuh, munculnya bintik kemerahan pada kulit yang akhirnya membentuk sebuah gelembung cair. Keluhan lain yang kadang dirasakan penderita adalah sakit perut.
Penanganan dan Pengobatan Penyakit Cacar (Herpes)
Pada penderita penyakit cacar hal yang terpenting adalah menjaga gelembung cairan tidak pecah agar tidak meninggalkan bekas dan menjadi jalan masuk bagi kuman lain (infeksi sekunder), antara lain dengan pemberian bedak talek yang membantu melicinkan kulit. Penderita apabila tidak tahan dengan kondisi hawa dingin dianjurkan untuk tidak mandi, karena bisa menimbulkan shock.
Obat-obatan yang diberikan pada penderita penyakit cacar ditujukan untuk mengurangi keluhan gejala yang ada seperti nyeri dan demam, misalnya diberikan paracetamol. Pemberian Acyclovir tablet (Desciclovir, famciclovir, valacyclovir, dan penciclovir) sebagai antiviral bertujuan untuk mengurangi demam, nyeri, komplikasi serta melindungi seseorang dari ketidakmampuan daya tahan tubuh melawan virus herpes. Sebaiknya pemberian obat Acyclovir saat timbulnya rasa nyeri atau rasa panas membakar pada kulit, tidak perlu menunggu munculnya gelembung cairan (blisters).
Pada kondisi serius dimana daya tahan tubuh sesorang sangat lemah, penderita penyakit cacar (herpes) sebaiknya mendapatkan pengobatan terapy infus (IV) Acyclovir. Sebagai upaya pencegahan sebaiknya seseorang mendapatkan imunisasi vaksin varisela zoster. Pada anak sehat usia 1 - 12 tahun diberikan satu kali. Imunasasi dapat diberikan satu kali lagi pada masa pubertas untuk memantapkan kekebalan menjadi 60% - 80%. Setelah itu, untuk menyempurnakannya, berikan imunisasi sekali lagi saat dewasa. Kekebalan yang didapat ini bisa bertahan sampai 10 tahun.
b. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrom)
Penyakit ini disebabkan oleh HIV (Human Immuno-deficiency Virus) yang menyerang kekebalan tubuh. Virus ini menular melalui kontak cairan, antara lain aktivitas hubungan seksual, pemakaian jarum suntik bekas penderita HIV, dan wanita penderita HiV yang sedang mengandung janin.
c. Hepatitis
Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis A, hepatitis B, non A, dan non B.
d. Influenza
Penyakit ini ditularkan oleh virus influenza melalui udara, menyerang saluran pernapasan, akibatnya penderita mengalami kesulitan bernapas.
e. Campak (Morbili)
Penyakit ini disebabkan oleh morbivirus. Virus me¬nyerang bagian kulit, akibatnya pada kulit muncul bercak-bercak merah disertai rasa gatal.
f. Rabies
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui gigitan hewan yang sudah terkena rabies, antara lain: anjing, kucing, dan kera. Virus kemudian menyerang sistem saraf yang menyebabkan pende¬rita mengalami gangguan saraf. Vaksin rabies ditemukan oleh Louis Pasteur.
g. Kanker (tumor ganas)
Penyakit ini disebabkan oleh virus onkogen. Virus ini, menyebabkan sel pada tubuh bagian tertentu mengalami pembeiahan tanpa terkendali, sehingga pada penderita stadium lanjut bagian tubuh tertentu yang terkena kanker akan membentuk benjolan yang semakin membesar.
h. Demam Ebola
Penyakit ini disebabkan oleh virus ebola yang meng-akibatkan pendarahan pada seluruh tubuh. Gejala penyakit ini adalah demam tinggi, muntah-muntah, mencret, nyeri pada dada, kepala, dan otot. Masa inkubasi penyakit 2-21 hari.
Penyakit yang disebabkan oleh virus dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksin adalah bibit penyakit yang telah dilumpuhkan dan dikemas dalam cairan, kemudian disuntikkan. Vaksin akan menstimulai tubuh membentuk antibodi.
Serum adalah darah manusia yang mengandung antibodi penyakit. Misal penderita campak akan diberi serum campak. Sehingga kekebalan pada penderita akan terbentuk dan dinamakan kekebalan pasif.
i. Herpes
Adanya pelepuhan kulit di seluruh tubuh merupakan gejala awal yang ditimbulkan bila terinfeksi virus herpes. Virus ini bisa berakibat kematian bagi bangsa primata. Manusia dapat tertular dari gigitan atau cakaran satwa yang mengandung virus tersebut. Penderita penyakit ini akan mengalami dehidrasi akibat pelepuhan kulit dan akhirnya kematian akan menjemputnya. Hati-hati jika memelihara primata seperti monyet, lutung, owa, siamang, orangutan, dan lain-lain. Bisa jadi primata yang anda pelihara itu ternyata menderita herpes. Penyakit ini disebabkan oleh herpesvirus. Gejalanya akan muncul bintik bernanah yang membahayakan pada kulit, mata, mulut, dan alat kelamin.
PENYAKIT AKIBAT CACING
Selain akibat serangan bakteri atau virus sebagai penyebab umum penyakit ada juga parasit cacing yang dapat menimbulkan penyakit. Ini lumrah terjadi di daerah tropis atau negara berkembang. Parasit cacing akan mudah menimbulkan infeksi pada tubuh manusia karena dicetuskan oleh berbagai faktor perilaku hygiene personal yang kurang bersih dan sehat. Disamping itu juga akan dipermudah oleh karena kondisi sanitasi lingkungan pemukiman penduduk yang buruk.
Tanpa disadari parasit cacing berupa telur atau larvanya bisa melekat pada sela jari dan kuku tangan yang tidak bersih. Demikian juga dapat menempel pada bahan makanan yang akan dikonsumsi sehingga bisa menyebabkan gangguan pencernaan. Pada beberapa keadaan lingkungan, larva cacing dapat menginfeksi lewat kontak langsung menembus kulit sehingga dapat bermigrasi menuju organ vital seperti pembuluh darah, pembuluh limfe, hati, paru-paru dan jantung.
Berikut ini ringkasan dari berbagai sumber beberapa jenis penyakit yang umum terjadi akibat invasi (serangan) parasit cacing :
Ascaris = Penyakit Cacing Gelang.
Parasit penyebabnya Ascaris lumbricoides yang dapat menimbulkan keluhan mual, nafsu makan berkurang, diare, keluar cacing dewasa dari tinja atau muntahan.
Anchilostomiasis = Penyakit Cacing Tambang.
Parasit penyebabnya Ancylostoma duodenale. Larvanya dapat menembus kulit dan dapat menimbulkan keluhan gatal, letih, lesu, kekurangan darah (anemia).
Enterobiasis = Penyakit Cacing Kremi.
Parasit penyebabnya Enterobius vermicularis. Parasit ini seringkali menimbulkan keluhan gatal-gatal pada daerah sekitar lubang pantat (anus).
Taeniasis = Penyakit Cacing Pita.
Parasit penyebabnya Taenia saginata (daging sapi) atau Taenia soleum (daging babi) dapat menimbulkan keluhan mual, muntah, diare atau sembelit serta dapat pula keluar cacing seperti lembaran pita ketika BAB.
Trikuriasis = Penyakit Cacing Cambuk.
Parasit penyebabnya Trichuris trichiura yang dapat menimbulkan keluhan mual, muntah, diare atau sembelit, nyeri perut dan penurunan berat badan.
Filariasis = Penyakit Cacing Filaria.
Salah satu parasit penyebabnya Brugia malayi yang dapat menimbulkan keluhan sumbatan pada pembuluh limfe, pembengkakan kaki sehingga disebut juga penyakit kaki gajah (elephantiasis).
Prinsip penangananya semua jenis penyakit akibat serangan parasit cacing tersebut pada dasarnya sama, yakni pemberian obat anti cacing (anthelmintika), misalnya: mebendazole, albendazole atau pirantel pamoate dengan dosis tunggal atau dosis rumatan (maintenance) menurut usia dan berat badan dan sebaiknya dikonsultasikan pada ahli kesehatan. Sedangkan yang paling penting adalah pencegahannya yaitu Melalui kesadaran menumbuhkan perilaku hidup bersih dan sehat, denagn cara:
Membiasakan mencuci tangan yang benar.
Mengolah makanan dengan baik.
Menjaga kebersihan lingkungan pemukiman.
Minggu, 16 November 2014
kode pintar icd 10
KODE PINTAR ICD 10
| NO | DIAGNOSA | KODE ICD X |
| 1 | Abdominal pain | R10.4 |
| 2 | Ablasi dan kerusakan retina | H 33 |
| 3 | Ablasio Retina / Cornea | H33.2 |
| 4 | Abortus iminens | O20.0 |
| 5 | Abortus infeksius | O08.0 |
| 6 | Abortus inkomplit | O06.9 |
| 7 | Abortus insiplens | O02.1 |
| 8 | Abortus lainnya | O 05 |
| 9 | Abortus medik | O 04 |
| 10 | Abortus spontan | O 03 |
| 11 | Abses(LUKA) | L02.9 |
| 12 | Abses abdominal | K65.0 |
| 13 | Abses Akilla | L02.4 |
| 14 | Abses apendicular/apendikes | K 35.1 |
| 15 | Abses app | K35.1 |
| 16 | Abses bartolin | N75.1 |
| 17 | Abses beplum | J34.0 |
| 18 | Abses CD | N73.5 |
| 19 | Abses cerebri | Q06.0 |
| 20 | Abses colli | L02.1 |
| 21 | Abses cornea | H16.3 |
| 22 | Abses coxal | Q76.4 |
| 23 | Abses dada | J86.9 |
| 24 | Abses gingival | K05.2 |
| 25 | Abses ginjal | N15.1 |
| 26 | Abses hati amuba | A 06.4 |
| 27 | Abses hati/liver/hepar | K75.0 |
| 28 | Abses ingunialis | L02.2 |
| 29 | Abses kepala/ragio | L02.8 |
| 30 | Abses lutut kiri/axilla/femur/femoral | L02.4 |
| 31 | Abses mama | N61 |
| 32 | Abses mandibula | K10.0 |
| 33 | Abses otak | G06.6 |
| 34 | Abses pada dada | J86.9 |
| 35 | Abses pagina | N76.0 |
| 36 | ABSES PALATUM | K12.2 |
| 37 | Abses palpebra | H00.0 |
| 38 | Abses pancereas | K85 |
| 39 | Abses pantat/buttock/glutea | L02.3 |
| 40 | Abses paraparingeal | J39.0 |
| 41 | Abses parienal | K61.0 |
| 42 | Abses paru | J 85.1, .2 |
| 43 | Abses paru/lung | J85.1 |
| 44 | Abses peritonsilair | J36 |
| 45 | Abses perodental | K05.2 |
| 46 | Abses perut | K65.0 |
| 47 | Abses pinggang kiri | L02.2 |
| 48 | Abses pipi | L02.0 |
| 49 | Abses post op/luka oprasi | T81.4 |
| 50 | Abses renal | N15.1 |
| 51 | Abses Retro pritonial | K65.0 |
| 52 | Abses sub mandibula | K12.2 |
| 53 | Abses torax | J86.9 |
| 54 | Abses turbo ovarial (ATO) | N70.9 |
| 55 | Abses umbilicia/dinding (Abdomen punggung) | L02.2 |
| 56 | Achalasia cardia / esopagus | K22.0 |
| 57 | Achelasia congenital | Q39.5 |
| 58 | Achelasia pylorus | Q40.0 |
| 59 | Acut abdomen | R10.0 |
| 60 | Acut laringo tracea broncitis | J20.9 |
| 61 | Acut myelocitic leukemia (AML) | C92.0 |
| 62 | Acut respiratory distress syndrom | J80 |
| 63 | Acute hepatic failure | K72.0 |
| 64 | Adamantinoma | D16.5 |
| 65 | Adeno ca | C11.1 |
| 66 | Adeno ca. gaster | C16.9 |
| 67 | Adeno Ca.Colon | C18.9 |
| 68 | Adeno Ca.paru | C34.9 |
| 69 | Adeno tonsilitis cronis | J35.2 |
| 70 | Adenomycosio | N80.0 |
| 71 | Adnexitis | N70.9 |
| 72 | After Coming head | O64.1 |
| 73 | Agranulositosus | D 70 |
| 74 | Akibat dari kemasukan benda asing melalui lubang tubuh | T 15, T 17 - T19 |
| 75 | Alergi | T78.4 |
| 76 | Alergi rhinitis akibat kerja | J 30.3 |
| 77 | Aleukimia leukimia | C95.7 |
| 78 | ALL | C91.0 |
| 79 | Amebiasis | A06.9 |
| 80 | Amebiasis lainnya | A 06.0-.3 .5-.9 |
| 81 | Amenore | N 91.0, .1, .2 |
| 82 | Amenorrhea | N91.2 |
| 83 | AMI ( infark miokard akut) | I21.9 |
| 84 | Amputasi jari kaki satu | S98.1 |
| 85 | Anemia (gravio) | D64.8 |
| 86 | Anemia aplastik lainnya | D 61 |
| 87 | Anemia defisiensi zat besi | D 50 |
| 88 | Anemia hemolitik | D58.9 |
| 89 | Anemia Hemolitik | D 59 |
| 90 | Anemia lainnya | D 51 – D 58, D 60, D 62 - D 64 |
| 91 | Anemia pasca pendarahan | D50.0 |
| 92 | Anencepalus bayi | Q00.0 |
| 93 | anencepalus ibu | Q35.0 |
| 94 | Aneorisme Aorta Abdominal | I71.4 |
| 95 | Aneuryama aorta | I71.9 |
| 96 | Angina pictoris | I20.9 |
| 97 | angina pictoris unsiable/fasca infark | I20.0 |
| 98 | Angio fibroma nasofaring | D10.6 |
| 99 | Angioauritic Alergi | T78.3 |
| 100 | Anomali intra cranial | Q89.9 |
| 101 | Anomia post partum | O99.0 |
| 102 | Anoptalmia | Q11.1 |
| 103 | Anorexia | R63.0 |
| 104 | Anthraks | A 22 |
| 105 | Antonea Uteri | O62.2 |
| 106 | Anxietas | F41.9 |
| 107 | Aorta insufisianis | I35.1 |
| 108 | Aorta stenosis | Q25.3 |
| 109 | Apasia | R47.0 |
| 110 | APB | O48.9 |
| 111 | Apekia | H27.0 |
| 112 | Apendicitis | K37 |
| 113 | Apendicitis acut | K35.9 |
| 114 | Apendicitis kronis | K36 |
| 115 | Apendicitis perforasi | K35.0 |
| 116 | Apendicular | K38.1 |
| 117 | Apendix infilltrat | K38.1 |
| 118 | Apnea | R06.8 |
| 119 | Apnea bayi | P28.4 |
| 120 | Apneic spell | R06.8 |
| 121 | AR | A06.9 |
| 122 | Aritmia | I49.0 |
| 123 | Artialgia | M25.5 |
| 124 | Artretis | M13.9 |
| 125 | Artritis belia | M 08 - M 09 |
| 126 | Artritis piogenik dan artritis pada penyakit infeksi dan parasit YDK di tempat lain | M 00 - M 01 |
| 127 | Artritis reumatoid | M 05 - M 06 |
| 128 | Artropati dan artritis | M 12 - M 14 |
| 129 | Artropati reaktif | M 02 - M 03 |
| 130 | Artrosis | M 15 - M 19 |
| 131 | Ascariasis | B77.9 |
| 132 | Ascites | R18 |
| 133 | ASD ( Atreal septa depta ) | Q21.1 |
| 134 | Aseptor implant | Z31.2 |
| 135 | Asidosis metabdik | E87.2 |
| 136 | Asma akibat kerja | J 45 |
| 137 | Asma bronciale (AB) | J45.9 |
| 138 | Asphixia | R09.0 |
| 139 | Asphixia berat | P21.0 |
| 140 | asphixia ringan | P21.1 |
| 141 | Aspirasi hidung | T17.1 |
| 142 | Aspirasi mecodum | P24.0 |
| 143 | Aspirasi minyak T /Bd.Asing/Food | T17.9 |
| 144 | Aspirasi pnemunea dewasa | J69 |
| 145 | Aspirasi pnemunia bayi | P24.1 |
| 146 | Astenea | R53 |
| 147 | Atelactasis | J98.1 |
| 148 | Aterosklerosis | I 70 |
| 149 | Atoroma | I70.9 |
| 150 | Atresia ani | Q42.3 |
| 151 | Atresia duodeni | Q 41.0 |
| 152 | Atresia Ileum | Q41.0 |
| 153 | Atresia rectum | Q42.1 |
| 154 | Atrial fibrilasi (AF) | I48 |
| 155 | Atritis Rematik | M08.0 |
| 156 | AV block | I44.3 |
| 157 | Avulsion | T14.7 |
| 158 | Azotermia | R79.8 |
| 159 | Balanitis | N48.1 |
| 160 | balanitis | N48.1 |
| 161 | Basalioma Canthus lateralis | C44.1 |
| 162 | Basalioma hidung/pipi/mata | C44.3 |
| 163 | Basalioma telinga | C44.2 |
| 164 | Batu btaghorn | N20.0 |
| 165 | Batu empedu | K80.8 |
| 166 | Batu ginjal | N20.0 |
| 167 | Batu uretra /BBB | N21.1 |
| 168 | batuk rejan ( pertusis) | A37.9 |
| 169 | bayi belum lahir ( infartu) | Z33 |
| 170 | Bayi besar | P08.0 |
| 171 | bayi kurang minum | P92.2 |
| 172 | Z 38 | |
| 173 | bayi mati | P95 |
| 174 | bayi meninggal ibu hidup (KJDR) | O36.4 |
| 175 | bayi normal | Z38.0 |
| 176 | Bayi sectio | P03.4 |
| 177 | Bayi vakum | P03.3 |
| 178 | BBLR | F05.0 |
| 179 | Benda asing pada telinga | T 16 |
| 180 | berkelahi | Y04 |
| 181 | Bibir celah dan langit-langit celah | Q 35 - Q 37 |
| 182 | Bibir sumbing | Q36.9 |
| 183 | Bilgted ovum | O02.0 |
| 184 | Biliary kolik | K80.5 |
| 185 | Bisinosis | J 66.0 |
| 186 | Bleeding post coitus | N93.0 |
| 187 | Block Water Fever | B50.8 |
| 188 | Bloody diare | K92.1 |
| 189 | Bmdicardia | R00.1 |
| 190 | bortolintitis | N75.8 |
| 191 | BPH ( prostat) | N10 |
| 192 | Bracial Palsy | P14.3 |
| 193 | Bronciektasis | J47 |
| 194 | Bronciolitis /Acut | J21.9 |
| 195 | Broncitis | J40 |
| 196 | Broncitis acut | J20.9 |
| 197 | Broncitis kronik | J42 |
| 198 | Bronco pnemunia | J18.0 |
| 199 | Bronkiektasis | J 47 |
| 200 | Bronkitis akut dan bronkiolitis akut | J 20 - J 21 |
| 201 | Bronkitis, emfisema dan penyakit paru obstruktif kronik lainnya | J 40 - J 44 |
| 202 | Bruselosis | A 23 |
| 203 | Buka pen | Z47.0 |
| 204 | Buka spiral | Z30.5 |
| 205 | bunuh diri dengan membakar diri | X76.0 |
| 206 | bunuh diri dengan menusuk badan | X70 |
| 207 | Burger O | E78.3 |
| 208 | Burt abdomen | T21 |
| 209 | Buta dan rabun | H 54 |
| 210 | CA ewametrium | C54.1 |
| 211 | Ca. Blader | C67.9 |
| 212 | Ca. Buli-buli | C68.0 |
| 213 | Ca. Caecum | C18.0 |
| 214 | Ca. Cerviks | C53.9 |
| 215 | ca. Coll | C76.0 |
| 216 | Ca. Colon | C18.9 |
| 217 | ca. Corpus | C54.9 |
| 218 | Ca. Epidermoid | C44 |
| 219 | Ca. Esopagus | C15.9 |
| 220 | Ca. Femur | C40.2 |
| 221 | Ca. Gaster/lambung | C16.9 |
| 222 | ca. Gland (kelenjar) | C77.9 |
| 223 | Ca. Laring | C32.9 |
| 224 | Ca. Lidah | C02.9 |
| 225 | Ca. Mama | C50.9 |
| 226 | Ca. Mandibula | C41.1 |
| 227 | Ca. Nesofaring | C11.9 |
| 228 | Ca. Ovari | C56 |
| 229 | Ca. Palata | C05.9 |
| 230 | Ca. Pancereas | C25.9 |
| 231 | Ca. Pantat | C76.3 |
| 232 | Ca. Parotis ( pinggang) | L 07 |
| 233 | Ca. Paru | C34.1 |
| 234 | ca. Penis | C60.9 |
| 235 | Ca. Rahim/uterus | C55 |
| 236 | Ca. Recti | C20 |
| 237 | Ca. Sigmoid | C18.7 |
| 238 | ca. Squo mous cell | C76.0 |
| 239 | Ca. Tibia | C51.9 |
| 240 | Ca. Vagina | C52 |
| 241 | Ca.chalangio | C22.1 |
| 242 | ca.corio | C58 |
| 243 | Ca.prostat | C61 |
| 244 | Ca.teroid | C73 |
| 245 | cacat bawaan | Q03.0 |
| 246 | CAD/CHD (PJK) | I25.1 |
| 247 | Campak | B 05 |
| 248 | campak/measles | B05.9 |
| 249 | candidiasis | B37.9 |
| 250 | Capul succedonum | P12.8 |
| 251 | cardioac cirosis | K76.1 |
| 252 | cardioac cirosis | K76.1 |
| 253 | cardiogenic syok | R57.0 |
| 254 | cardiomeapaty | I42.9 |
| 255 | cardiomegali | I51.7 |
| 256 | carsinoma telinga | C44.2 |
| 257 | carsinoma utery | C55 |
| 258 | catarac | Q12.0 |
| 259 | Catarac compilated | H26.2 |
| 260 | catarac muda ( juvenil) | H26.0 |
| 261 | catarac scondary | H26.4 |
| 262 | Catarac traumatik | H26.1 |
| 263 | Catarac tua(mature) | H25.2 |
| 264 | Cedera alat dalam lainnya | S 26 - S 27 |
| 265 | Cedera intrakranial | S 06 |
| 266 | Cedera lahir | P 10 - P 15 |
| 267 | Cedera mata dan orbita | S 05 |
| 268 | Cedera remuk dan trauma amputasi YDT dan daerah badan multipel | S 36 - S 37 S 97-98, T04-05 |
| 269 | Cedera YDT lainnya, YTT dan daerah badan multipel | S00-S01, S04, S09-S11, |
| 270 | celuitis | L03.9 |
| 271 | celulitis orbita | H05.0 |
| 272 | cepalgia | R51 |
| 273 | cepalhematoma bayi | P12.0 |
| 274 | cepalhematoma bayi traumatik | S08.8 |
| 275 | cepalhomatoma bayi | P12.0 |
| 276 | cerebral | G93.9 |
| 277 | cerebral palsy (CP) | G80.9 |
| 278 | cerumen | H61.2 |
| 279 | cervisal syndrome | M53.1 |
| 280 | CH (cirosis hati) | K74.6 |
| 281 | chalazion | H00.1 |
| 282 | chest pain | R07.4 |
| 283 | CHF (gagal jantung kongestif) | I50.0 |
| 284 | Chikungunya | A 92.0 |
| 285 | choledocholitiasis | K80.5 |
| 286 | cholelitiasis | K80.2 |
| 287 | cholestasis | K83.1 |
| 288 | cholestasis | K83.1 |
| 289 | cholicystitis | K81.9 |
| 290 | cholicystitis acut | K81.0 |
| 291 | chondroitis | M98.8 |
| 292 | chordea | N48.9 |
| 293 | Chorea | G25.5 |
| 294 | chorio cersininoma | C58 |
| 295 | chusing syndrome | E24.9 |
| 296 | cicatrix | L90.5 |
| 297 | CIN ( carsinoma insitu cerviks) | D06.9 |
| 298 | ciroses cardiac | K76.1 |
| 299 | cirosis alineum cav.nasi | T17.1 |
| 300 | CKD (cronic kidny disease) | N03.9 |
| 301 | CLD | K76.0 |
| 302 | CLD | K76.9 |
| 303 | CLL | C91.1/M9823/3 |
| 304 | CMI | C92.1/M98/G31.3 |
| 305 | colera | A00.9 |
| 306 | colic abdomen | R10.4 |
| 307 | colic abdomen | R10.4 |
| 308 | colic ureter | N23 |
| 309 | colit renal ginjal | N23 |
| 310 | Colitis (acut) | A09 |
| 311 | colitis amooba | A06.0 |
| 312 | colitis ulceritiva | K51.9 |
| 313 | colitis ulkiraliv | K51.9 |
| 314 | Coll abses | A16.2 |
| 315 | colodian baby | Q80.2 |
| 316 | colon post radiasi | K92.1 |
| 317 | colostomi prolaps | K91.4 |
| 318 | colostomy | K91.4 |
| 319 | coma | R40.2 |
| 320 | coma bayi | P91.5 |
| 321 | coma diabetic | E14.0 |
| 322 | coma hepaticum | K72.9 |
| 323 | coma hiperglikemik | E14.0 |
| 324 | coma hipoglikemik | E15 |
| 325 | coma honk ( hiper osmolarilas non ketosis) | E14.0 |
| 326 | coma uremikum | N19 |
| 327 | coma urine | N19 |
| 328 | combustio grade 10-19% | T31.1 |
| 329 | combustio grade 30-39% | T31.3 |
| 330 | combustio grade 60-69% | T31.6 |
| 331 | combustio grade 70-79% | T31.7 |
| 332 | combustio lengan | T22.1 |
| 333 | comedo | L70.0 |
| 334 | comfusi | R41.0 |
| 335 | comon bill duct (CBD) | D13.5 |
| 336 | comon colid | J00 |
| 337 | compresion | T14.2 |
| 338 | compressisi medula spinalis | G93.5 |
| 339 | condiloma acuminatum | A63.0 |
| 340 | Congenital centralis /PSC | |
| 341 | conjungtivitas neunatal gonocokal | H13.1 |
| 342 | conjungtivitis | H10.9 |
| 343 | conraktur otot /leher | M62.9 |
| 344 | contifation | K59.0 |
| 345 | contractur akilla | M79.9 |
| 346 | contraktur alku kanan/elbow | M24.4 |
| 347 | contraktur jari kaki kiri | M20.0 |
| 348 | contraktur musole | M62.4 |
| 349 | contusio cerebri /CKB | S06.2 |
| 350 | contusio cerebril/CKS/CKR | S06.0 |
| 351 | contusio mata | S05.8 |
| 352 | contusio modula spinalis | S34.3 |
| 353 | contusio muscolorum | T14.6 |
| 354 | contusio otot leher | T14.6 |
| 355 | contusio penis | S30.2 |
| 356 | contusio renis | S37.0 |
| 357 | contusio torax | S20.2 |
| 358 | convulsi ( kejang) | R56.8 |
| 359 | COPD/PPOM | J44.9 |
| 360 | cor pulmunale cronic ( CPC) | I27.9 |
| 361 | corpus alienum hipoparing | T17.2 |
| 362 | Corpus Alineum Broncus | T17.5 |
| 363 | corpus alineum peluru | S21.0 |
| 364 | corpus alineumthoacal (punggung) | S29.9 |
| 365 | coxitis | M13.1 |
| 366 | CPA ( odema perut akut) | J81 |
| 367 | CPD | Q33.9 |
| 368 | CRAO | H34.2 |
| 369 | CRF/GGK | N18.9 |
| 370 | cronic liver disease | K76.9 |
| 371 | cronic lung disiase | J98.4 |
| 372 | Croup | J05.0 |
| 373 | CRS | M53.1 |
| 374 | crush foot | S97.8 |
| 375 | crush injuri cruris | S95.9 |
| 376 | CTEV | Q66.0 |
| 377 | Cuitus | N94.1 |
| 378 | curetage skin | L02.4 |
| 379 | CVA | I 64 |
| 380 | CVA bleeding/hemorage/HS | I61.9 |
| 381 | CVA infak | I63.9 |
| 382 | CVD | I67.9 |
| 383 | CVD trombosit | I66.9 |
| 384 | cyanosis | R23.0 |
| 385 | cyatitis | N30.9 |
| 386 | cynotic CHD | Q24.9 |
| 387 | cysta bartolini | N75.0 |
| 388 | cysta cebaceaus | L72.1 |
| 389 | cysta cerebrl | G93.0 |
| 390 | cysta coklat | N80.1 |
| 391 | cysta conjunctiva | H11.4 |
| 392 | cysta ductus laclimaris | H04.8 |
| 393 | cysta endometrium | N85.8 |
| 394 | cysta epidermoid | I72.0 |
| 395 | Cysta eyelld (kelopak mata) | H02.8 |
| 396 | cysta folikuler | K09.0 |
| 397 | cysta hati | I51.9 |
| 398 | cysta mama | N60.0 |
| 399 | cysta maxijja | K09.2 |
| 400 | cysta nasal(binus) | J34.1 |
| 401 | Cysta overy | N83.2 |
| 402 | cysta pancereas | K86.2 |
| 403 | cysta preauriculer | Q18.1 |
| 404 | cysta radioculer | K04.8 |
| 405 | cysta retro kurikuler | Q18.1 |
| 406 | cysta sarcoma | D46.6 |
| 407 | cysta sub mandibula | K11.6 |
| 408 | cysta thyrogiasus | Q89.2 |
| 409 | cysta tiroid | E04.1 |
| 410 | cystocele (female) | N81.1 |
| 411 | cystocele (male) | N32.8 |
| 412 | cystocele (prolaps uteri) | N81.4 |
| 415 | dead conseptus | O02.1 |
| 416 | Decom cordis | I51.9 |
| 417 | decubitus(ulcer) | L89 |
| 418 | Defisiensi vitamin A | E 50 |
| 419 | Defisiensi vitamin lainnya | E 51 - E 56 |
| 420 | Deformasi kongenital kaki | Q 66 |
| 421 | Deformasi kongenital sendi panggul | Q 65 |
| 422 | deformiti gum | K06.8 |
| 423 | dehidrasi | E06 |
| 424 | deloyed depelopment | R62.8 |
| 425 | deloyed movement | F80.9 |
| 426 | demam abses | L02.9 |
| 427 | Demam berdarah dengue | A 91 |
| 428 | Demam bolak balik | A 68 |
| 429 | Demam dengue | A 90 |
| 430 | Demam kuning | A 95 |
| 431 | demam rematik | I00 |
| 432 | Demam reumatik akut | I 00 - I 02 |
| 433 | Demam tifoid dan paratifoid | A 01 |
| 434 | Demam tifus | A 75 |
| 435 | demam tipoid | A01.0 |
| 436 | Demam virus dan demam berdarah virus tular serangga lainnya | A 93 - A 94 A 96 - A 99 |
| 437 | Demam virus tular nyamuk | A 92.1 - A 92 |
| 438 | Demam yang sebabnya tidak diketahui | R 50 |
| 439 | Demensia | F 00 - F 03 |
| 440 | dementia senlititis | F03 |
| 441 | dengue | A90 |
| 442 | Dengue fever | A09 |
| 443 | Deplesi volume (dehidrasi) | E 86 |
| 444 | depresi | F32.9 |
| 445 | Derformitas tungkai didapat | M 20 - M 21 |
| 446 | Dermatitis | L30.8 |
| 447 | Dermatosis akibat kerja | L 23 - L 24 |
| 448 | Desmenorrhea | N94.6 |
| 449 | Despepsia | K30 |
| 450 | deviasi septuri | J34.2 |
| 451 | devic's desease | G36.0 |
| 452 | dextrocordia | Q24.0 |
| 453 | DHF/DSS | A91 |
| 454 | Diabetes melitus bergantung insulin | E 10 |
| 455 | Diabetes melitus berhubungan malnutrisi | E 12 |
| 456 | Diabetes melitus dalam kehamilan | O 24 |
| 457 | Diabetes melitus tidak bergantung insulin | E 11 |
| 458 | Diabetes melitus YDT lainnya | E 13 |
| 459 | Diabetes melitus YTT | E 14 |
| 460 | Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) | A 09 |
| 461 | diare bayi baru lahir | P78.3 |
| 462 | diare yang ada hasil lab | A09 |
| 463 | diare yang tidak ada leb | K52.9 |
| 464 | diathesis hemorrhage | D69.9 |
| 465 | dibacok/ditebas/ditusuk maling | W45.0 |
| 466 | Dicederai | X 85 - Y 09 |
| 467 | dicubitus ( cerviks) | N86 |
| 468 | diffuse axonal injury | T14.4 |
| 469 | Difteria | A 36 |
| 470 | digigit anjing ( dogbite) | W54.0 |
| 471 | dikeroyok | Y04.0 |
| 472 | Dilated cardio myopanti (DCM) | I51.7 |
| 473 | dipikul | Y04 |
| 474 | diplopia | H53.2 |
| 475 | Dipteria | A36.9 |
| 476 | disentri amoeba | A06.0 |
| 477 | disentri basiler | A03.9 |
| 478 | diseruduk kerbau | W64.9 |
| 479 | Disfagia | R13 |
| 480 | disfungsi batang otak | G93.9 |
| 481 | Dislokasi | T14.3 |
| 482 | Dislokasi Ankle | S93.0 |
| 483 | Dislokasi bahu/humerus | S43.0 |
| 484 | dislokasi elbow/siku | S53.1 |
| 485 | Dislokasi HIP | S73.0 |
| 486 | Dislokasi lensa | H27.1 |
| 487 | dislokasi lutut | S83.1 |
| 488 | Dislokasi mandibula | S03.0 |
| 489 | Dislokasi panggul kiri | S33.2 |
| 490 | dislokasi TMJ | S03.0 |
| 491 | Dislokasi, terkilir, teregang YDT dan daerah badan multipel | S 03, 13, 23, 33, 43, 53 S 63, 73, 83, 93, T 03 |
| 492 | Dispepsia | K 30 |
| 493 | distension abdomen | R14 |
| 494 | Distocia | O66.9 |
| 495 | Distress pernapasan bal | P22.9 |
| 496 | distroyed lung | J98.4 |
| 497 | ditabrak mobil dari belakang sedang jalan | V03.1 |
| 498 | ditembak | W34.0 |
| 499 | diverticula meckel's | Q43.0 |
| 500 | DM | E14.9 |
| 501 | DM gangren | E14.5 |
| 502 | DM Juvenil | E10 |
| 503 | DM nepropaty | E14.2 |
| 504 | doble hemiparese | G81.9 |
| 505 | Dorsopati lainnya | M 40 - M 44, M 54.6, .8, .9 |
| 506 | down syndrom | Q90.9 |
| 507 | Drakunkuliasis | B 72 |
| 508 | drip normal bayi | P03.6 |
| 509 | Drip normal ibu | I62.1 |
| 510 | Drowning | T75.1 |
| 511 | drug eruption | L27.0 |
| 512 | drug induce halopridal | T43.3 |
| 513 | drug intoxication | F19.0 |
| 514 | drugindiced hepatitis | T88.7 |
| 515 | DUB | N93.8 |
| 516 | Duodenitis | K29.8 |
| 517 | DVT | I82.9 |
| 518 | dysphonia | R49.0 |
| 519 | dysrhytmia | I49.9 |
| 522 | edema anasorhe | R60.1 |
| 523 | edema cerebral | G93.6 |
| 524 | edema eyelid mata | H02.8 |
| 525 | edema papil | H47.1 |
| 526 | edema paru akut | J81 |
| 527 | edema vulva | N90.8 |
| 528 | Edema, proteinuria dan gangguan hipertensi dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas | O 10 - O 13, O 16 |
| 529 | EDH ( epidural hematoma) | S06.4 |
| 530 | Efek kebisingan telinga bagian dalam | H 83.3 |
| 531 | Efek panas dan pencahayaan | T 67 |
| 532 | Efek radiasi YTT | T 66 |
| 533 | Efek samping pengguna obat, bahan obat dan bahan biologik | Y 40 - Y 59 |
| 534 | Efek sebab luar lainnya dan YTT pembedahan dan perawatan YTK di tempat lain | T 33 - T 35, T 68 - T69 T 71-T 73, T 75 - T 78 |
| 535 | Efek tekanan udara dan tekanan air | T 70 |
| 536 | Efek toksik bahan non medisinal lainnya | T 51, T 53 -T 55 , T 57 - T58, T61- T 65 |
| 537 | efusi pleura | J90 |
| 538 | Efusi pleura (empiema) | J 90 - J 91 |
| 539 | Ekinokokosis | B 67 |
| 540 | eklampsia | O15.9 |
| 541 | Eklampsia | O 15 |
| 542 | Ektopic cordis | Q24.8 |
| 543 | elektrik shook | T75.4 |
| 544 | Emboli dan trombosis arteri | I 74 |
| 545 | Emboli paru | I 26 |
| 546 | emesis | R11 |
| 547 | empisema paru | J43.9 |
| 548 | empyema | J86.9 |
| 549 | encepalopati | G93.4 |
| 550 | endocarditia | J38 |
| 551 | endometnosis | N80.9 |
| 552 | Endometriosis | N 80 |
| 553 | endometritis | N71.9 |
| 554 | endoptalmitis | H44.0 |
| 555 | ensefalitis | G04.9 |
| 556 | Ensefalitis virus | A 83 - 86 |
| 557 | ensepalopati hepatikum | K72.9 |
| 558 | enteritis | A09 |
| 559 | entrocular fistula | K63.2 |
| 560 | entropia bulu-buli | Q64.1 |
| 561 | entropien mata citaticial | H02.1 |
| 562 | epididmitis | N45.9 |
| 563 | epidoral hematoma | S06.4 |
| 564 | epigastro pain | R10 |
| 565 | epigglotitis | J05.1 |
| 566 | epilepsi | G40.9 |
| 567 | Epilepsi | G 40 - G 41 |
| 568 | Episoda depresif, gangguan depresif berulang, gangguan suasana perasaan (mood afektif) menetap, lainnya atau YTT | F 32 - F 39 |
| 569 | Episode manik dan gangguan afektif bipolar | F 30, F 31 |
| 570 | epitaxis | R04.0 |
| 571 | epulis | K06.0 |
| 572 | erisipelas | A46 |
| 573 | eritodemi | L53.9 |
| 574 | erythema toxica | L53.0 |
| 575 | esopagitis | K20 |
| 576 | esotrapia | H50.0 |
| 577 | exanthema subitum | B05.2 |
| 578 | excoriasis | T14.0 |
| 579 | exostosis | M89.9 |
| 580 | exostusis multiple | Q75.6 |
| 581 | exstra piramidal syndrom | G25.9 |
| 584 | faktur hidung/nasi | S02.2 |
| 585 | Faringitis akut | J 02 |
| 586 | febris pueperalis | O 85 |
| 587 | fetal bayi | P 20,1 |
| 588 | fetal distress | O 33,9 |
| 589 | fibro adenoma mama (FAM) | D 24 |
| 590 | fibro myostis | M 79,0 |
| 591 | fibro sarcoma | D 21,9 |
| 592 | fibroma | D 36,7 |
| 593 | fibroma axilla | D 21,3 |
| 594 | fibroma femur | D 16,2 |
| 595 | fibroma jari/pipi | D 36,7 |
| 596 | fibroma kepala | D 21,0 |
| 597 | fibroma osteo | D 26,0 |
| 598 | fibromyalgia | M 79,0 |
| 599 | fibrosis corpora cavernosa | N 48,6 |
| 600 | Filariasis | B 74 |
| 601 | fistal perianal | K 60,3 |
| 602 | fistal perineum | N 38,0 |
| 603 | fistal post op | T 81,8 |
| 604 | fistel enterocutaneous | K 63,2 |
| 605 | fistel palatum | Q 35,9 |
| 606 | fistel preauriculer | Q 18,1 |
| 607 | fistula abdomen | K 63,2 |
| 608 | fistula afresia ani | Q 42,2 |
| 609 | fistula dada | J86.0 |
| 610 | fistula medula | Q 18,8 |
| 611 | fistula rectum/kelainan | Q 43,6 |
| 612 | fistula uretra | N 36,0 |
| 613 | fistula vesico cutanens | L 98,4 |
| 614 | Fistula/Kista preaurikel | H 61.8 |
| 615 | flatulence | R 14 |
| 616 | Flebitis, tromboflebitis, emboli dan trombosis vena | I 80 - I 82 |
| 617 | floating kuee | M 23,4 |
| 618 | flour albus( keputihan) | N89.8 |
| 619 | flu | J 11,1 |
| 620 | FPD | O 33,9 |
| 621 | fr acetabulus | S 32,4 |
| 622 | fr fedis | S 92,3 |
| 623 | fr remus inferlor/superlor, pubis | S 32,5 |
| 624 | fr zygoma | S 02,4 |
| 625 | Fr. Oxygeus | S 32,2 |
| 626 | fraktur alveolis | S02.8 |
| 627 | fraktur ankie | S 82,8 |
| 628 | fraktur basis cranil/okipitalis | S02.1 |
| 629 | fraktur bimaleolar | S82.8 |
| 630 | fraktur calcaneus | S92.0 |
| 631 | fraktur cervical | S12.9 |
| 632 | fraktur clavicula | S42.0 |
| 633 | fraktur clavicula close | S42.0.0 |
| 634 | fraktur colles | S52.5 |
| 635 | fraktur comperesion | T14.2 |
| 636 | fraktur cosial/coxle | S32.2 |
| 637 | fraktur costal/coxle open | S32.2.1 |
| 638 | fraktur cruris distal | S82.3 |
| 639 | fraktur elbow | S 52,0 |
| 640 | fraktur femur | S72.9 |
| 641 | fraktur fibula | S82.4 |
| 642 | fraktur frontalis/pariental | S02.0 |
| 643 | fraktur humarius | S42.3 |
| 644 | fraktur humarius open | S42.3.1 |
| 645 | Fraktur leher, toraks atau panggul | S 12, S 22, S 32, T 08 |
| 646 | fraktur lumbar/l2 | S32.0 |
| 647 | fraktur maleolus | S82.8 |
| 648 | fraktur maluncin | M84.0 |
| 649 | fraktur mandibula | S02.6 |
| 650 | fraktur matacarpai | S 62,3 |
| 651 | fraktur maxilla | S02.4 |
| 652 | Fraktur meliputi daerah badan multipel | T 02 |
| 653 | fraktur metatarual | S92.5 |
| 654 | fraktur montigia | S52.0 |
| 655 | fraktur multiple | T02.9 |
| 656 | fraktur okanon | S52.0 |
| 657 | fraktur os pubis | S32.5 |
| 658 | Fraktur paha | S 72 |
| 659 | fraktur patella /genu | S82.0 |
| 660 | fraktur pelvis | S32.8 |
| 661 | fraktur phalink | S92.5 |
| 662 | fraktur radius antebrichis | S52.0 |
| 663 | fraktur rib lga | S22.3 |
| 664 | fraktur scapula | S42.1 |
| 665 | fraktur sinithis | S52.5 |
| 666 | fraktur talus | S91.1 |
| 667 | fraktur temporal | S02.1 |
| 668 | Fraktur tengkorak dan tulang muka | S 02 |
| 669 | fraktur tibia | S82.2 |
| 670 | fraktur trocanta | S72.1 |
| 671 | Fraktur tulang anggota gerak lainnya | S 42, S 52, S 62, S 82 S 92, T 10,T 12 |
| 672 | fraktur ulna | S52.2 |
| 673 | fraktur vetebrata | Y 08 |
| 674 | fraktur weber | S92.1 |
| 675 | fraktur wist | S62.8 |
| 676 | fuo | R 50,9 |
| 677 | furunkel telinga | H 60,0 |
| 680 | Gagal ginjal akut akibat asam jengkol | N 17.8 |
| 681 | Gagal ginjal lainnya | N 17.0-.2,.9-N19 |
| 682 | gagal jantung | I50.0 |
| 683 | Gagal jantung | I 50 |
| 684 | gagal napas | J96.9 |
| 685 | Gagal napas | R 09.2 |
| 686 | galactocele | N64.8 |
| 687 | Gangguan anxietas fobik, gangguan anxietas lainnya | F 40, F 41 |
| 688 | Gangguan badan kaca dan bola mata | H 43 - H 45 |
| 689 | gangguan belajar | R48.0 |
| 690 | Gangguan bukan radang pada indung telur, saluran telur dan ligamentum latum | N 83 |
| 691 | Gangguan dalam masa menopause dan perime nopause lainnya | N 95 |
| 692 | Gangguan daya dengar | H 90 - H 91 |
| 693 | Gangguan daya lihat | H 53 |
| 694 | Gangguan diskus servikal dan intervertebral lainnya | M 50 - M 51 |
| 695 | Gangguan disosiatif [konversi] | F 44 |
| 696 | Gangguan endokrin, nutrisi dan metabolik lainnya | E15-35, E 58, E 63, E 65, E 67 - E 85, E 87 - E90 |
| 697 | Gangguan gerakan berulang-ulang dengan kekuatan berlebih | X 50 |
| 698 | Gangguan haid Lainnya | N 91.3 - .5, N 92.2 - .6 |
| 699 | Gangguan hantaran dan aritmia jantung | I 44 - I 49 |
| 700 | Gangguan hiperkinetik, perilaku, emosional atau fungsi sosial khas, gangguan "tic", dan gangguan mental dan emosional lainnya | F 05 - F 06, F 90 - F 98 |
| 701 | Gangguan jaringan ikat sistemik lainnya | M 30 - M 31, M 33 - M 36 |
| 702 | Gangguan jaringan lunak akibat yang berhubungan dengan penggunaan tekanan berlebihan | M 70 |
| 703 | Gangguan jaringan lunak lainnya | M 71 - M 79 |
| 704 | Gangguan jiwa YTT | F 99 |
| 705 | Gangguan kelenjar tiroid lainnya | E 07 |
| 706 | Gangguan kepribadian, gangguan kebiasaan dan impuls, gangguan identitas, gangguan prevensi seksual | F 60 - F 69 |
| 707 | Gangguan kesehatan yang berhubungan dengan | Y 96 |
| 708 | Gangguan koroid dan korioretina | H 30 - H 32 |
| 709 | Gangguan lain gerakan mata binokular | H 51 |
| 710 | Gangguan lain kelopak mata | H 02 - H 03 |
| 711 | Gangguan lain retina | H 35 - H 36 |
| 712 | Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan Alkohol | F 10 |
| 713 | Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan Halosinogenika | F 16 |
| 714 | Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan Kanabinoida | F 12 |
| 715 | Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan Kokain | F 14 |
| 716 | Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan Opioida | F 11 |
| 717 | Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan Sedativa atau Hipnotika | F 13 |
| 718 | Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan Stimulansia | F 15 |
| 719 | Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan Tembakau | F 17 |
| 720 | Gangguan mental dan perilaku akibat zat pelarut yang mudah menguap atau zat multipel dan zat psikoaktif lainnya | F 18, F 19 |
| 721 | Gangguan obsesif - kompulsif | F 42 |
| 722 | Gangguan pada payudara | N 60 - N 64 |
| 723 | Gangguan perkembangan dan erupsi gigi termasuk impaksi | K 00 – K 01 |
| 724 | Gangguan perkembangan psikologis | F 80 - F 89 |
| 725 | Gangguan pernapasan akibat menghirup zat kimia, gas, asap dan uap | J 68 |
| 726 | Gangguan prostat lainnya | N 41 - N 42 |
| 727 | Gangguan psikotik nonorganik lainnya atau YTT | F 28 - F 29 |
| 728 | Gangguan refraksi dan akomodasi | H 52 |
| 729 | Gangguan saluran napas lainnya yang ber-hubungan dengan masa perinatal | P 22 - P 28 |
| 730 | Gangguan saraf optik dan saraf penglihatan | H 46 - H 48 |
| 731 | Gangguan saraf, radiks dan pleksus saraf | G 50 - G 55, G 56.1, .4, .9, G 57 - G 59 |
| 732 | Gangguan serangan peredaran otak sepintas dan sindrom yang terkait | G 45 |
| 733 | Gangguan sistem kemih kelamin lainnya | N 82, N 84 - N 90, N 93- N 94, N 96, N 98 - N 99 |
| 734 | Gangguan sistem lakrimal dan orbita | H 04 - H 06 |
| 735 | Gangguan skizoafektif | F 25 |
| 736 | Gangguan stress pasca trauma | F 43.1 |
| 737 | Gangguan struktur dan densitas tulang | M 80 - M 85 |
| 738 | Gangguan tiroid berhubungan dengan defisiensi iodium | E 00 - E 02 |
| 739 | Gangguan waham menetap dan induksi | F 22, F 24 |
| 740 | ganglion | M07.4 |
| 741 | gangren pulpa( GP) | K04.1 |
| 742 | gangren radix (GR) | R02 |
| 743 | gangrene | R02 |
| 744 | gaster porforasi | K31.9 |
| 745 | gastri ulcer | K25.9 |
| 746 | gastritis | K29.7 |
| 747 | gastritis acut | K29.1 |
| 748 | gastritis alcoholik | K29.2 |
| 749 | gastritis alergi | K29.6 |
| 750 | gastritis chronik | K29.4 |
| 751 | Gastritis dan duodenitis | K 29 |
| 752 | gastro duodenitis | K29.9 |
| 753 | gastro schizis | Q79.3 |
| 754 | gawat janin | O68.9 |
| 755 | GBS | G61.0 |
| 756 | GE | A09 |
| 757 | Gejala pada jantung | R 00 - R 01 |
| 758 | Gejala sisa cedera, keracunan dan akibat lanjut sebab luar | T 90 - T 98 |
| 759 | Gejala sisa malnutrisi dan defisiensi gizi lainnya | E 64 |
| 760 | Gejala, tanda dan penemuan klinik dan laboratorium tidak normal lainnya, YTK di tempat lain | R 02 - R 09.0, .1, .3, .8 R96 - R 99 |
| 761 | gemeli | O30.0 |
| 762 | GGA | N17.9 |
| 763 | GGK/GNC | N18.9 |
| 764 | ginggivitis | K05.1 |
| 765 | gipastrik pain | R10.1 |
| 766 | glant cell femur | K06.8 |
| 767 | glaucoma congenital | Q15.0 |
| 768 | glaucoma kronik | H40.1 |
| 769 | glaucoma sekunder | H40.5 |
| 770 | Glaukoma | H 40 - H 42 |
| 771 | glaukoma acut | H40.2 |
| 772 | glomerulo nepritis kronis | N03.9 |
| 773 | GNA( gromeruloneprritis acut) | N00.9 |
| 774 | GNAPS ( glomerulonepritis acut post streptococos) | N00 |
| 775 | Gondong | B 26 |
| 776 | gonitis | M00.0 |
| 777 | gonorrhea | A54.9 |
| 778 | gout ( urat) | M10.9 |
| 779 | gout artritis | M10.0 |
| 780 | grande multipara | Z35.4 |
| 781 | granuloma | L92.9 |
| 782 | granuloma hidung | J32.9 |
| 783 | granuloma mata | H01.8 |
| 784 | granuloma telinga | H71 |
| 785 | granuloma umbilicus | L92.3 |
| 786 | grave"s desease | E05 |
| 787 | gusi berdarah | K06.0 |
| 788 | gynecomastia | N62 |
| 789 | gyneko ekologi | Z01.4 |
| 792 | hallux valgus | M20.1 |
| 793 | hallux valgus congenital | Q66.3 |
| 794 | hamil + hipertensi | O16 |
| 795 | hamil ectopic | O00.9 |
| 796 | hamil kurang dari 37 mg | O47.0 |
| 797 | hamil muda | O26.9 |
| 798 | hamil normal | O80.9 |
| 799 | hamil+ anemia | O99.0 |
| 800 | Hasil laboratorium positif HIV | R 75 |
| 801 | headache | R51 |
| 802 | heat struke | T67.0 |
| 803 | Helmintiasis lain | B 68 - 71, B 75, B 77 - B 83 |
| 804 | hema insisionalis | K43.9 |
| 805 | hemangioma | D18.0 |
| 806 | hemangioma sarcoma | C49.3 |
| 807 | hemaptoe | R04.2 |
| 808 | hematemasis | K92.0 |
| 809 | hematematis graviderum | O21.1 |
| 810 | hemato bayi | P54.8 |
| 811 | hemato pnemo thorax | S27.1 |
| 812 | hemato traumatik | S27.1 |
| 813 | hematocyluria | B65.0 |
| 814 | hematoma | T14.0 |
| 815 | hematoma dahi kiri | S09.9 |
| 816 | hematoma labia | N90.8 |
| 817 | hematoma subdural | S06.5 |
| 818 | hematoma testis | N50.1 |
| 819 | hematoma vagina | N89.8 |
| 820 | hematoma vulva | O71.7 |
| 821 | hematomegali | R16.0 |
| 822 | hematometra | N35.7 |
| 823 | hematuria | R31 |
| 824 | hemiparesis | G81.9 |
| 825 | hemongioma capilary | D18.0/M9131/0 |
| 826 | hemopili | D66 |
| 827 | hemorage intra ocular | H44.3 |
| 828 | hemorage intra of newbron | P21.8 |
| 829 | HEMORHAGE | R58 |
| 830 | hemorhage conjupctiva | H11.3 |
| 831 | hemoroid | I84.9 |
| 832 | hemoroid external | I84.5 |
| 833 | hemoroid interna | I34.2 |
| 834 | Hemoroid/Wasir | I 84 |
| 835 | henmatocal | N94.8 |
| 836 | henoch schonlein purpura (HSP) | D69.0 |
| 837 | hepatik fallure | K72.9 |
| 838 | hepatitis | K75.9 |
| 839 | hepatitis A | B15.9 |
| 840 | Hepatitis A akut | B 15 |
| 841 | hepatitis acut | K72.0 |
| 842 | hepatitis B akut | B16.9 |
| 843 | Hepatitis B akut | B 16 |
| 844 | Hepatitis C akut | B 17.1 |
| 845 | hepatitis C cronis | B17.1 |
| 846 | Hepatitis E akut | B 17.2 |
| 847 | hepatitis fulminaat | B19.9 |
| 848 | hepatitis kronik | K73.9 |
| 849 | Hepatitis kronik | K 73 |
| 850 | hepatitis neunatal | P59.2 |
| 851 | hepatitis virus akut | B19.9 |
| 852 | hepatitis virus B | B16.9 |
| 853 | Hepatitis virus lainnya | B 17.0.8, B18 - B19 |
| 854 | hepato renal syndrom | K76.7 |
| 855 | hepatoma | C22.0 |
| 856 | hepatos plenomegali | R16.2 |
| 857 | heperurisemia | E79.0 |
| 858 | hepotensi | I95.9 |
| 859 | hermoprodite | Q66.0 |
| 860 | hernia | K46.9 |
| 861 | hernia eoigastric/ventral | K44.9 |
| 862 | hernia femoral | K43.9 |
| 863 | Hernia inguinal | K 40 |
| 864 | hernia insisional | K41.9 |
| 865 | Hernia lainnya | K 41 - K 46 |
| 866 | hernia medialis | K45.8 |
| 867 | hernia umbicollis | K42.9 |
| 868 | herpes facialis | B00.1 |
| 869 | herpes simpleks | B00.9 |
| 870 | herpes zooster | B02,9 |
| 871 | HHD | K43.9 |
| 872 | hiccup | R06.6 |
| 873 | Hidramnion | O 40 |
| 874 | hidrocelle | N43.3 |
| 875 | hidrocelle testis dextra | N50.9 |
| 876 | hidrocepalus | G91.9 |
| 877 | hidrocepalus bayi | Q03.0 |
| 878 | Hidrokel dan spermatokel | N 43 |
| 879 | hidrom neos bayi | P01.3 |
| 880 | hidromnios | O40 |
| 881 | hidroneorosis | N13.3 |
| 882 | hidrops | K60.9 |
| 883 | Hidrosefalus kongenital | Q 03 |
| 884 | HIE ( hipoxic ischemic ensialopaty) | G93.4 |
| 885 | hifopermia | T66 |
| 886 | higroma ( colli d Cystioa) | D18.1 |
| 887 | HIL /scrotalis/inguinalis | K40.9 |
| 888 | hipaglikemia bayi | P70.4 |
| 889 | hipalbumenimia | E88.0 |
| 890 | hipema | H21.0 |
| 891 | hipema traumatic | S05.1 |
| 892 | hiper billirubimania | P59.9 |
| 893 | hiper cholestrol | E78.0 |
| 894 | hiperactive exercise | I51.3 |
| 895 | hipercolestrolemia | E78.0 |
| 896 | hiperemia pulpa HP | K04.0 |
| 897 | hipergilikemia | R73.9 |
| 898 | hiperpirakia | R50.9 |
| 899 | Hiperplasia prostat | N 40 |
| 900 | hipertensi ensepalopaty | I67.4 |
| 901 | Hipertensi esensial (primer) | I 10 |
| 902 | Hipertensi gestasional (akibat kehamilan)dengan proteinuria yang nyata/preeklamsia | O 14 |
| 903 | Hipertensi portal | K 76.6 |
| 904 | hipertiroid | E05.9 |
| 905 | hipertrapi scar | L91.0 |
| 906 | hipertropi prostat | N40 |
| 907 | hipertropi pilory stenosis | K31.1 |
| 908 | hipoglikemia | E16.2 |
| 909 | Hipoksia intrauterus dan asfiksia lahir | P 20 - P 21 |
| 910 | hipospadia | Q54.9 |
| 911 | hipospadia penoscrotal | Q54.4 |
| 912 | hipotiroid | E03.9 |
| 913 | Hipotiroidisme lain | E 03 |
| 914 | hipovolamik syok | T79.4 |
| 915 | hipoxia bayi | P21.9 |
| 916 | hischpruag | Q43.1 |
| 917 | histeria | F44.9 |
| 918 | HIV | B24 |
| 919 | HOCM hipertensi oostruktif cardiomyopati | I42.1 |
| 920 | hodkin disease | C81.0 |
| 921 | hona,foot dan mouth disease ( HFMD) | B08.4 |
| 922 | HONK | E14.0 |
| 923 | hordeolum | H00.0 |
| 924 | HPP | O72.1 |
| 925 | hyper menorea | N92.0 |
| 926 | hyperthiroid | E05.9 |
| 929 | ICH multiple | S06.2 |
| 930 | icterus | R17 |
| 931 | icterus neonatorum | P59.9 |
| 932 | IHD | I25.9 |
| 933 | ileus | K56.7 |
| 934 | ileus paralitik | K56.0 |
| 935 | Ileus paralitik dan obstruksi usus tanpa Hernia | K 56 |
| 936 | ilius obstruktif | K56.6 |
| 937 | imark miokard | I21.9 |
| 938 | Imperforata hymen (blum pernah hamil) | Q52.3 |
| 939 | impetigo bulose | L00 |
| 940 | impotensi dini | F52.2 |
| 941 | impressi fr.os frontal | X25.0 |
| 942 | Imunisasi BCG | Z 23. 2 |
| 943 | Imunisasi campak | Z 24. 4 |
| 944 | Imunisasi dan kemoterapi pencegahan lainnya | Z 23.0, .1, .3 - .4, .6 - .8 |
| 945 | Imunisasi gabungan DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) | Z 27. 1 |
| 946 | Imunisasi hepatitis virus | Z 24. 6 |
| 947 | Imunisasi poliomielitis | Z 24. 0 |
| 948 | Imunisasi rabies | Z 24. 2 |
| 949 | Imunisasi tetanus | Z 23. 5 |
| 950 | Infantil cerebral palsy | G 80 |
| 951 | Infark miokard akut | I 21 - I 22 |
| 952 | Infark serebral | I 63 |
| 953 | infeksi bronohitis | J40 |
| 954 | infeksi gigi | K04.7 |
| 955 | infeksi gigi | K01.1 |
| 956 | infeksi gonocolle | S54.9 |
| 957 | Infeksi gonokok | A 54 |
| 958 | Infeksi herpesvirus (Herpes simpleks) | B 00 |
| 959 | Infeksi khusus lainnya pada masa perinatal | P 38 - P 39 |
| 960 | Infeksi Klamedia | A 70 |
| 961 | Infeksi kulit dan jaringan subkutan | L 00 - L 08 |
| 962 | Infeksi lainnya yang terutama ditularkan melalui hubungan seksual | A 57 - A 64 |
| 963 | infeksi luka oprasi (ILO) | T81.4 |
| 964 | Infeksi meningokok | A 39 |
| 965 | infeksi meninokok | A39.9 |
| 966 | infeksi neunatal | P39.9 |
| 967 | infeksi neunatrium | P39.9 |
| 968 | infeksi puerferalis | O86.4 |
| 969 | infeksi renal chronis | N11.9 |
| 970 | Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya | J 00 - J 01 J 05 - J 06 |
| 971 | Infeksi trematoda lainnya | B 66 |
| 972 | infeksi umbilicus | R38 |
| 973 | infertality | N97.9 |
| 974 | Infertilitas perempuan | N 97 |
| 975 | infiltrat parotis | K11.9 |
| 976 | Influensa | J 10 - J 11 |
| 977 | injury | T14.9 |
| 978 | inpartu | R19.8/Z33 |
| 979 | insect bite | T14.0 |
| 980 | insect bite | T63.4 |
| 981 | insomnia | G47.0 |
| 982 | insufisiensi renal GGK | N18.9 |
| 983 | inta cerebral bleding | G93.9 |
| 984 | intake makanan | A05.9 |
| 985 | interstitial lung oedema | J84.9 |
| 986 | interusi gigi | K08.9 |
| 987 | intocikasi bodrex | T39.1 |
| 988 | intolorance food | K90.4 |
| 989 | intosikasi racun serangga | T60.9/X48.0 |
| 990 | intosikasi susu | T14.7/X44.0 |
| 991 | intosikesi | T88.7 |
| 992 | intoxcisasi CTM | F15.0 |
| 993 | intoxcisasi jamur | T62.0/X49.0 |
| 994 | intoxicasi bayigon | T60.9/X68.9 |
| 995 | intoxicasi bensin | T52.0/X66.0 |
| 996 | intoxicasi deterjen | T55/X69.0 |
| 997 | intoxicasi kerosin | T52.0/X46.0 |
| 998 | intoxicasi obat | F10.0 |
| 999 | intoxicasi racun tikus | T60.4 |
| 1000 | intra cranial bleeding | D75.9 |
| 1001 | intra cranial bleeding non traumatik | I62.2 |
| 1002 | intra cranial bleeding traumatik | S06.3 |
| 1003 | invaginasi | K56.1 |
| 1004 | inversio uteri | N85.5 |
| 1005 | inversio uteri post fartum | O71.2 |
| 1006 | inverte papiloma cav.nasi | C76.0 |
| 1007 | invertigo | L01.0 |
| 1008 | Iridosiklitis dan gangguan lain iris dan badan silier | H 20 - H 22 |
| 1009 | iritasi pulpa | K04.9 |
| 1010 | ischemik | I99 |
| 1011 | ischialgia | M54.3 |
| 1012 | ISK | N39.0 |
| 1013 | ISPA | J06.9 |
| 1014 | ITP | D69.3 |
| 1015 | IUD | Z30.5 |
| 1016 | IUFD ( KJDR) | O36.4 |
| 1017 | IUFD ( KJDR)bayi | P95 |
| 1018 | J | KODE |
| 1019 | jalan kaki ditabrak mobil | V03.4 |
| 1020 | jalan kaki ditabrak motor | V01.9 |
| 1021 | Janin dan bayi baru lahir yang dipengaruhi oleh faktor dan penyulit kehamilan persalinan dan kelahiran | P 00 - P 04 |
| 1022 | jantung kroner | I25.9 |
| 1023 | jantung rematik | I09.0 |
| 1024 | jatuh | W19.0 |
| 1025 | Jatuh | W 00 - W 19 |
| 1026 | jatuh dari cidomo | V38.1 |
| 1027 | jatuh dari kamar mandi | W18.0 |
| 1028 | jatuh dari korsi | W07.0 |
| 1029 | jatuh dari mobil di jalan raya | V48.6 |
| 1030 | jatuh dari motor | V28.9 |
| 1031 | jatuh dari pohon | W14.0 |
| 1032 | jatuh dari rumah /bangunan | W13.0 |
| 1033 | jatuh dari sepeda | V18.9 |
| 1034 | jatuh dari tangga | W11.0 |
| 1035 | jatuh dari tempat tidur | W06.0 |
| 1036 | jatuh dari truck | V58.0 |
| 1037 | jatuh dibawah | W01.0 |
| 1038 | jatuh disekolah sox ditabrak teman | W51.2 |
| 1039 | jatuh kesumur | W17.0 |
| 1040 | jatuh terguling dari mobil | V48.6 |
| 1041 | KAD (koma asidosis diabetic) | E14,0 |
| 1042 | kaki masuk jeruji motor | V38,1 |
| 1043 | kala I | O63,0 |
| 1044 | Kala II | O63,1 |
| 1045 | Kardiomiopati | I 42 - I 43 |
| 1046 | Karies gigi | K 02 |
| 1047 | karies propunda | K02,9 |
| 1048 | Karsinoma in situ kulit | D 04 |
| 1049 | Karsinoma in situ lainnya | D 00 - D 03 D 07 - D 09 |
| 1050 | Karsinoma in situ payudara | D 05 |
| 1051 | Karsinoma in situ serviks uterus | D 06 |
| 1052 | Katarak dan gangguan lain lensa | H 25 - H 28 |
| 1053 | KB suntik | Z30,9 |
| 1054 | KCCL | E41 |
| 1055 | Keadaan infeksi HIV asimtomatik | Z 21 |
| 1056 | kebekeran rumah | X09,0 |
| 1057 | Kecelakaan angkutan air | V 90 - V 94 |
| 1058 | Kecelakaan angkutan darat | V 01 - V 89 |
| 1059 | Kecelakaan angkutan lain | V 98 -V 99 |
| 1060 | Kecelakaan angkutan udara dan ruang angkasa | V 95 - V 97 |
| 1061 | Kecelakaan keracunan dan terdedah oleh bahan beracun lainnya | X 40 - X 44 |
| 1062 | Kecelakaan tenggelam dan terbenam | W 65 - W 74 |
| 1063 | kedangnitis | K83,0 |
| 1064 | kehamilan abdominal | O00,0 |
| 1065 | Kehamilan ektopik | O 00 |
| 1066 | Kehamilan lain yang berakhir dengan abortus | O 02, O 06 - O 08 |
| 1067 | kehamilan lewat waktu | O48 |
| 1068 | Kehamilan lewat waktu | O 48 |
| 1069 | Kehamilan multipel | O 30 |
| 1070 | kejang | R56,8 |
| 1071 | kejang demam | R56,0 |
| 1072 | Kejang YTT | R 56 |
| 1073 | kejatuhan benda | W20 |
| 1074 | Kelainan dentofasial termasuk maloklusi | K 07 – K 08 |
| 1075 | Kelainan kromosom YTK ditempat lain | Q 91 - Q 99 |
| 1076 | Kelainan sendi lainnya | M 22 - M 25 |
| 1077 | keloid | L91,0 |
| 1078 | kemasukan biji di telingga | W44,0 |
| 1079 | Kembar siam | O84 |
| 1080 | kembung | R14 |
| 1081 | kena air panas | X11,0 |
| 1082 | kena gelas/kaca | E25,0 |
| 1083 | kena jarum | W 27 |
| 1084 | kena kapak | W27 |
| 1085 | kena kawat/besi | W22,0 |
| 1086 | kena kayu | W21 |
| 1087 | kena lempar buku | W20,0 |
| 1088 | kena mesin giling | W31 |
| 1089 | kena minyak panas | X10 |
| 1090 | kena paku | W22,0 |
| 1091 | kena pancing | W20,8 |
| 1092 | kena peluru nyasar | W29,0 |
| 1093 | kena pisau/pedang | W26,0 |
| 1094 | kena ranting pohon | X58 |
| 1095 | kena tembak | W 34,0 |
| 1096 | KEP | E46 |
| 1097 | Keracunan akibat pemaparan alkohol | X 45 |
| 1098 | Keracunan akibat pemaparan bahan beracun berbahaya lainnya | X 49 |
| 1099 | Keracunan akibat pemaparan gas-gas & uap-uap lainnya | X 47 |
| 1100 | Keracunan akibat pemaparan pelarut organik & hidrokarbon serta uapnya | X 46 |
| 1101 | Keracunan akibat pemaparan pestisida | X 48 |
| 1102 | Keracunan gas, asap dan uap lain | T 59 |
| 1103 | Keracunan logam | T 56 |
| 1104 | Keracunan obat dan preparat biologik | T 36 - T 50 |
| 1105 | Keracunan pelarut organik | T 52 |
| 1106 | Keracunan pestisida | T 60 |
| 1107 | Keratitis | H16,9 |
| 1108 | Keratitis dan gangguan lain sklera dan kornea | H 15 - H 19 |
| 1109 | kerato uvcitis | H20,9 |
| 1110 | kern icterus | P57,9 |
| 1111 | Kesalahan pada pasien selama perawatan medis non bedah | Y 60 - Y 84 |
| 1112 | kestrum | W87,0 |
| 1113 | KET | O00,1 |
| 1114 | Ketuban pecah dini | O 42 |
| 1115 | Khitanan menurut agama dan adat kebiasaan | Z 41.2 |
| 1116 | KIPI (komplikasi ikutan pasca imuisasi) | T88,1 |
| 1117 | kista cengenital | Q89,8 |
| 1118 | Kista dan abses kelenjar Bartholin | N 75.0.1 |
| 1119 | kista mesenterial | K66,8 |
| 1120 | kista orbit | H05,8 |
| 1121 | kista ovarli (beraslin) | N83,2 |
| 1122 | kista parovarium | Q50,5 |
| 1123 | kista radicular | K04,8 |
| 1124 | Kista rongga mulut dan penyakit pada rahang | K 09 – K 10 |
| 1125 | kista umbilicoli | C44,5 |
| 1126 | kistoma ovaril | D27 |
| 1127 | KLL | V29,9 |
| 1128 | Kolelitiasis | K 80 |
| 1129 | kolera | A60,9 |
| 1130 | Kolera | A 00 |
| 1131 | Kolesistitis | K 81 |
| 1132 | Koma hepatikum dan hepatitis fulminan | K 72 |
| 1133 | kompor meledak /kena api kompor | X02,0 |
| 1134 | kompressi medulla | G93,5 |
| 1135 | Kondisi hemoragik dan penyakit darah dan organ pembuat darah lainnya | D 65 – D 69, D 71 - D 73, D 75 – D 77 |
| 1136 | Kondisi lain yang bermula pada masa Perinatal | P 08, P 29, P 50 - P 54 P 56 - P 94, P 96 |
| 1137 | Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva | H 10 - H 13 |
| 1138 | konka hipertrofi | J24,8 |
| 1139 | Kontak dengan bahan panas | X 10 - X 19 |
| 1140 | Kontak dengan binatang & tumbuhan beracun | X 20 - X 29 |
| 1141 | kontraktur jari | M20,0 |
| 1142 | KP | A16,9 |
| 1143 | KP lama | A16,2 |
| 1144 | KPD | O42,9 |
| 1145 | kwarsiakor | E40 |
| 1146 | labio genato suzies | Q36.9 |
| 1147 | labio mayora | Q51.0 |
| 1148 | labio palato baizies | Q35.9 |
| 1149 | lacerasi anus | S31.8 |
| 1150 | lacerasi eye/cornea tampaprolapsa | S05.2 |
| 1151 | lacerasi vulva | S31.4 |
| 1152 | laceratum | T14.1 |
| 1153 | lagophitalmoes | H02.2 |
| 1154 | Lahir mati | P 95 |
| 1155 | laringeal web | Q31.0 |
| 1156 | laringitis akut | J04.0 |
| 1157 | laringitis cronik | J37.0 |
| 1158 | Laringitis dan trakeitis akut | J 04 |
| 1159 | laringo malacea/plagin | J38.0 |
| 1160 | laringo paringitis acut | J36.0 |
| 1161 | lecerasi cerebri | S05.3 |
| 1162 | ledakan tabung gas | W36.0 |
| 1163 | left heard failure LHF | S06.2 |
| 1164 | Leiomioma uterus | D 25 |
| 1165 | Lepra/Kusta | A 30 |
| 1166 | Lesi saraf radialis | G 56.3 |
| 1167 | Lesi saraf ulnaris | G 56.2 |
| 1168 | Lesmaniasis | B 55 |
| 1169 | letak lintang anak | P01.7 |
| 1170 | letak lintang ibu | O32.2 |
| 1171 | letak lintang kasep anak | P03.1 |
| 1172 | letak lintang kasiep ibu | O64.1 |
| 1173 | Letak muka | O32.3 |
| 1174 | letak sunsang ( ibu) | O32.1 |
| 1175 | letak sunsang anak | P01.7 |
| 1176 | leucoma cornea | H17.8 |
| 1177 | Leukemia | C 91 - C 95 |
| 1178 | leukemia acut | C95.0 |
| 1179 | leukemia comea | H18.9 |
| 1180 | lever ambic abses | AO6.4 |
| 1181 | lever amebic abses | A06.1 |
| 1182 | leymyosarcoma | M35.9 |
| 1183 | Limfadenitis tuberkulosa | A 18.2 |
| 1184 | Limfoma non Hodgkin | C 82 - C 85 |
| 1185 | limpoma no hodgkins | C85.9 |
| 1186 | limpomamalignah | C85.9 |
| 1187 | lipoma | I50.1 |
| 1188 | lipoma neohal | D17.9 |
| 1189 | lipoma retraurculer | C85.9 |
| 1190 | liver cronic | K76.9 |
| 1191 | liver cronis disease | K76.9 |
| 1192 | lodwing angina | K12.2 |
| 1193 | loose body patela (knee) | M23.4 |
| 1194 | Luka bakar dan korosi | T 20 - T 32 |
| 1195 | luka empeksi | T79.3 |
| 1196 | lumbago ( LBP) /low back pain | M54.5 |
| 1197 | lupa CNS | M32.9 |
| 1198 | Lupus eritemateus sistemik | M 32 |
| 1199 | LVH cardiomegali | I51.7 |
| 1200 | lympadenitis | I88.9 |
| 1201 | lympadenopaty | C85.0 |
| 1202 | lympadenpaty sup mandibula | R59.1 |
| 1203 | lympadepaty colli | Q89.2 |
| 1204 | lympengioma | D18.1 |
| 1205 | lympo sarcoma | D17.9 |
| 1209 | macrostamia | Q18.4 |
| 1210 | mal oclussion | K07.4 |
| 1211 | Malaria (Included all malaria) | B 50 - B 54 |
| 1212 | malaria cerebral | B50.0+ |
| 1213 | malaria cerebral klinis /demam | B54 |
| 1214 | malaria falciferum/tropical/algida | B50.9 |
| 1215 | malaria ovaie | B53.0 |
| 1216 | malaria quartana | B52.9 |
| 1217 | malaria vivak /tertiana | B51.9 |
| 1218 | Malformasi dan deformasi kongenital sistem muskuloskeletal lain | Q 67 - Q 79 |
| 1219 | Malformasi kongenital alat kelamin laki | Q 54 - Q 56 |
| 1220 | Malformasi kongenital alat kelamin wanita | Q 50 - Q 52 |
| 1221 | Malformasi kongenital lainnya | Q 10 - Q 18, Q 30 - Q 34, Q 80 - Q 89 |
| 1222 | Malformasi kongenital sistem cerna lainnya | Q 38 - Q 40,Q 42 - Q 45 |
| 1223 | Malformasi kongenital sistem kemih lainnya | Q 60 - Q 64 |
| 1224 | Malformasi kongenital sistem peredaran darah | Q 20 - Q 28 |
| 1225 | Malformasi kongenital susunan saraf lain | Q 00 - Q 02 Q 04, Q 06, Q 07 |
| 1226 | malignancy lutut | C76.5 |
| 1227 | malnutrisi | E46 |
| 1228 | Malnutrisi | E 40 - E 46 |
| 1229 | malrotasi | Q43.3 |
| 1230 | malunion | M84.0 |
| 1231 | mama alberant | Q83.8 |
| 1232 | marasmus | E41 |
| 1233 | marasmus kwarsi | E42 |
| 1234 | marnae diplasia | N60.9 |
| 1235 | massa colon | K63.8 |
| 1236 | mastititis abses | N61 |
| 1237 | mastoiditis | H70.9 |
| 1238 | mastopati | N64.9 |
| 1239 | masuk lintah | W57 |
| 1240 | medulo blastoma | C71.6 |
| 1241 | mega colon | K59.3 |
| 1242 | mega colon congenital | Q43.1 |
| 1243 | megacolon congenital | Q43.1 |
| 1244 | meiges syndrom | Q82.0 |
| 1245 | Melanoma ganas kulit | C 43 |
| 1246 | melena bayi | P54.1 |
| 1247 | melena dewasa | K92.1 |
| 1248 | melenoma malignen | C43.9 |
| 1249 | mellery weis syndrom | K22.6 |
| 1250 | menabrak dinding | W22 |
| 1251 | menabrak pohon | V47 |
| 1252 | menelan uang logam | W44.0 |
| 1253 | menengitis | G03.9 |
| 1254 | meningitis TBC | A17.0 |
| 1255 | Meningitis tuberkulosa | A 17.0 |
| 1256 | meningo ensafalitis | G04.9 |
| 1257 | meningo ensefalocelle | Q01.9 |
| 1258 | meningo gasepalitis TB | A17.8+ G05.0* |
| 1259 | meningocelle | Q05.9 |
| 1260 | menometroragia | N92.1 |
| 1261 | menopause | N95.1 |
| 1262 | menoraghia | N92.0 |
| 1263 | Menoragi atau metroragi | N 92.0, .1 |
| 1264 | menstruasi | N92.6 |
| 1265 | mental retardation | F79 |
| 1266 | menunggu bayi | Z39.0 |
| 1267 | Mesotelioma | C 45 |
| 1268 | Metahaemoglobinema | D 74 |
| 1269 | metastase glutea CA | C81 |
| 1270 | metastase intra cranial | C71.9 |
| 1271 | meteorismus ( perut kembung) | R14 |
| 1272 | micro urethra conginital | Q55.8 |
| 1273 | microcepally | Q02 |
| 1274 | migren | G43.9 |
| 1275 | Migren dan sindrom nyeri kepala lainnya | G 43 - G 44 |
| 1276 | Mikosis | B 35 - B 49 |
| 1277 | miningitis prulent /bacterial | G00.9 |
| 1278 | Miopati dan reumatisme | M 60 – M 64, 'M 66 – M 68 |
| 1279 | mised abortion/dead concytens | O02.1 |
| 1280 | missing teeth | K00.0 |
| 1281 | mitra valve prolapa | I05.9 |
| 1282 | mitral insufiensi | I34.0 |
| 1283 | mitral stenosis | I05.0 |
| 1284 | mnemonia berat | J18.9 |
| 1285 | Mola hidatidosa | O 01 |
| 1286 | mola hidatodosa | O01.9 |
| 1287 | moluscum contagiosum | B08.1 |
| 1288 | moluscum contagiosum mata | H03.1 |
| 1289 | monoliasis | B37.9 |
| 1290 | monoliasis bayi | P37.5 |
| 1291 | Mononeuropati anggota tubuh bagian atas lainnya | G 56.8 |
| 1292 | monoparase extrimitas | G83.1 |
| 1293 | morbili | B05.9 |
| 1294 | morbus harsan fieaksi | A30.9 |
| 1295 | motion sicknese | T75.3 |
| 1296 | MR ( mitral regorgitasi) | I34.0 |
| 1297 | mulitple cranial palsy | G57.7 |
| 1298 | multipara | Z64.1 |
| 1299 | multiple cerebri | G93.9 |
| 1300 | multiple conginital anomaly | Q89.9 |
| 1301 | multiple contusio muscolorum | T06.4 |
| 1302 | multiple exostosis | Q78.6 |
| 1303 | multiple fibroma colorsum | D21.2 |
| 1304 | multiple hordeulum | H00.0 |
| 1305 | multiple polip senile | C97 |
| 1306 | myalgia | M79.1 |
| 1307 | myastenia gravis | G70.0 |
| 1308 | myastenia gravis bayi | P94.0 |
| 1309 | mycosis mycotic | B49 |
| 1310 | myelenopritis | N12 |
| 1311 | myelitis | G04.9 |
| 1312 | myelofibrosis | D47.1 |
| 1313 | myocardial infection MCI | I40.0 |
| 1314 | myocarditis | I51.4 |
| 1315 | myoma uteri | D25.9 |
| 1316 | myopia | H52.1 |
| 1317 | myosercoma betis kiri | C42.9 |
| 1318 | myositis | M60.9 |
| 1319 | N | KODE |
| 1320 | naevus pigmentasi | Q82.5 |
| 1321 | necrasis palax /brachl | T87.5 |
| 1322 | necrosis | R02 |
| 1323 | Nefritis tubulo - interstitial, tidak ditentukan akut atau kronik/pielonefritis | N 12 |
| 1324 | Nefropati disebabkan oleh logam–logam berat | N 14.3 |
| 1325 | Nefropati Imunoglobulin A (Ig A) | N 02.8 |
| 1326 | Neoplasma ganas sistem napas dan alat rongga dada lainnya | C 30, C 31, C 37 - C 38.0, C 39 |
| 1327 | Neoplasma ganas alat kelamin perempuan lainnya | C 51 - C 52, C 57 |
| 1328 | Neoplasma ganas alat kelamin pria lainnya | C 63 |
| 1329 | Neoplasma ganas alat kemih lainnya | C 66, C 68 |
| 1330 | Neoplasma ganas bagian susunan saraf pusat | C 70, C 72 |
| 1331 | Neoplasma ganas bagian uterus lainnya dan YTT | C 55 |
| 1332 | Neoplasma ganas bibir, rongga mulut, kelenjar liur, faring, tonsil | C 00 - C 10 |
| 1333 | Neoplasma ganas bibir, rongga mulut, faring, lainnya & YTT | C 12 - C 14 |
| 1334 | Neoplasma ganas bronkus dan paru | C 34 |
| 1335 | Neoplasma ganas daerah rektosigmoid, rektum dan anus | C 19 - C 21 |
| 1336 | Neoplasma ganas esofagus | C 15 |
| 1337 | Neoplasma ganas ginjal, pelvis ginjal | C 64 - C 65 |
| 1338 | Neoplasma ganas hati dan saluran empedu intrahepatik | C 22 |
| 1339 | Neoplasma ganas jaringan ikat & jaringan lunak | C 46 - C 49 |
| 1340 | Neoplasma ganas kandung kemih (buli-buli) | C 67 |
| 1341 | Neoplasma ganas kelenjar endokrin lain dan struktur terkait | C 74 - C 75 |
| 1342 | Neoplasma ganas kelenjar tiroid | C 73 |
| 1343 | Neoplasma ganas kolon | C 18 |
| 1344 | Neoplasma ganas korpus uteri | C 54 |
| 1345 | Neoplasma ganas kulit lainnya | C 44 |
| 1346 | Neoplasma ganas lain dari limfoid, hematopoetik dan jaringan terkait lainnya | C 88-C 90, C 96 |
| 1347 | Neoplasma ganas lambung | C 16 |
| 1348 | Neoplasma ganas laring | C 32 |
| 1349 | Neoplasma ganas mata dan adneksa | C 69 |
| 1350 | Neoplasma ganas mediastinum | C 38.1-.8 |
| 1351 | Neoplasma ganas nasofaring | C 11 |
| 1352 | Neoplasma ganas otak | C 71 |
| 1353 | Neoplasma ganas ovarium (indung telur) | C 56 |
| 1354 | Neoplasma ganas pankreas | C 25 |
| 1355 | Neoplasma ganas payudara | C 50 |
| 1356 | Neoplasma ganas penis | C 60 |
| 1357 | Neoplasma ganas plasenta (uri) | C 58 |
| 1358 | Neoplasma ganas primer tempat multipel | C 97 |
| 1359 | Neoplasma ganas prostat | C 61 |
| 1360 | Neoplasma ganas sekunder dan neoplasma ganas kelenjar getah bening YTT | C 77 - C 80 |
| 1361 | Neoplasma ganas serviks uterus | C 53 |
| 1362 | Neoplasma ganas tempat lain dan yang tidak jelas batasannya | C 76 |
| 1363 | Neoplasma ganas testis | C 62 |
| 1364 | Neoplasma ganas trakea | C 33 |
| 1365 | Neoplasma ganas tulang dan tulang rawan sendi | C 40 - C 41 |
| 1366 | Neoplasma ganas usus halus dan alat cerna lainnya | C 17, C 23 - C 24, C 26 |
| 1367 | Neoplasma jinak alat kemih | D 30 |
| 1368 | Neoplasma jinak kulit | D 22 - D 23 |
| 1369 | Neoplasma jinak lainnya | D 10 - D12.0-.5,.7-.9, D13 D 31 - D32, D 34 - D36 |
| 1370 | Neoplasma jinak mediastinum | D 15.2 |
| 1371 | Neoplasma jinak otak dan susunan saraf pusat lainnya | D 33 |
| 1372 | Neoplasma jinak ovarium (indung telur) | D 27 |
| 1373 | Neoplasma jinak payudara | D 24 |
| 1374 | Neoplasma jinak sistem napas lainnya | D 14.1 - .4 |
| 1375 | Neoplasma yang tak menentu perangainya dan yang tak diketahui sifatnya | D 37 - D 48 |
| 1376 | nephro calcinosis | N29.8 |
| 1377 | nepratio sindrom | N04.8 |
| 1378 | nepritis | N05 |
| 1379 | neprolitiasis | N20.0 |
| 1380 | nepropati diabetik | E14.2+N08.3* |
| 1381 | neuralgia | M79.2 |
| 1382 | neurastania | F48.0 |
| 1383 | neuritis optic | H46 |
| 1384 | neuritis retro bulbar | H46 |
| 1385 | neuro chorioretiasis | H30.9 |
| 1386 | neuro fibromatosis | Q85.0 |
| 1387 | neuro panic | D70 |
| 1388 | neuropaty | G58.9 |
| 1389 | neus post histerectomy | K56.7 |
| 1390 | NHL | L85.9 |
| 1391 | NHS ( non hemorage stroke) | I64 |
| 1392 | Nistagmus & pergerakan mata yang tidak teratur lainnya | H 55 |
| 1393 | noma | A69.0 |
| 1394 | non union fraktur | M84.1 |
| 1395 | nyeri dada | R07.4 |
| 1396 | Nyeri perut dan panggul | R 10 |
| 1397 | nyeri pinggang | M54.5 |
| 1398 | Nyeri punggung bawah | M 54.5 |
| 1399 | O | KODE |
| 1400 | Obesitas | E 66 |
| 1401 | obesitas /overweleh | E66.9 |
| 1402 | OBS febris | R50.9 |
| 1403 | obstipasi | K59.0 |
| 1404 | obstruksi anus ( akut bawan bayi) | P03.1 |
| 1405 | obstruksi nasi | J34.8 |
| 1406 | obstruksi parsial | K11.8 |
| 1407 | obstruksi uropati | N13.1 |
| 1408 | obstruksi usus | P76.9 |
| 1409 | obstruktif sundice | K87 |
| 1410 | oclosio arteri retina sentral | H34.1 |
| 1411 | old myocard infaction ( OMI) | I25.2 |
| 1412 | oligohidramnion | O41.0 |
| 1413 | OMP | H66.9 |
| 1414 | ompalitis | P38 |
| 1415 | ompalocelle | Q79.2 |
| 1416 | Onkosersiasis | B 73 |
| 1417 | open fr cruris | S 82,2,1 |
| 1418 | open wound prut | S31.8 |
| 1419 | open wourd abdomen wall | S31.1 |
| 1420 | open wourd knee | S81.0 |
| 1421 | open wourd tigh paha | S71.1 |
| 1422 | opthalmopalgia | H49.9 |
| 1423 | oral trush | B46 |
| 1424 | Orang lain dengan risiko gangguan kesehatan yang berkaitan dengan penyakit menular | Z 20, Z 22 |
| 1425 | Orang yang mendapatkan pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan khusus dan investigasi lainnya | Z 00.2 - Z 13 |
| 1426 | Orang yang mengunjungi pelayanan kesehatan untuk tindakan perawatan khusus lainnya | Z 40 - Z41.0, .1, .3 - Z 45,Z 51 - Z 54 |
| 1427 | orbital celluitis | H05.0 |
| 1428 | orchitis | N46.9 |
| 1429 | osteo sarcoma dari | C40.1 |
| 1430 | osteo sarcoma femur | C49.2 |
| 1431 | osteo sarcoma lutut | C40.2 |
| 1432 | osteoartritis | M19.9 |
| 1433 | Osteomielitis | M 86 |
| 1434 | osteomyolitis | M86.9 |
| 1435 | osteonecrosis | M87.9 |
| 1436 | otitis | H66.9 |
| 1437 | Otitis media dan gangguan mastoid dan telinga tengah | H 65 - H 75 |
| 1438 | over dosis | T50.9 |
| 1443 | PAI | K38.1 |
| 1444 | pain abdominal | R10.4 |
| 1445 | palacenta previa ( jalan keluar bayi tertutup placenta) | O44.0 |
| 1446 | palato sciziz | Q35.9 |
| 1447 | palpitasi | R00.2 |
| 1448 | palsy cerebral | G80.9 |
| 1449 | pancereas anular | K86.8 |
| 1450 | pancreatitis acut | K85 |
| 1451 | pancytopenia | D61.9 |
| 1452 | panic diserdes | F41.0 |
| 1453 | Pankreatitis akut dan penyakit pankreas lainnya | K 85 - K 86 |
| 1454 | panophtalmitis | H44.0 |
| 1455 | paraliasi pertodik | G12.3 |
| 1456 | paralitik ilius | K56.0 |
| 1457 | paraparesis | G82.2 |
| 1458 | paringitis | J02.9 |
| 1459 | parkinson | G20 |
| 1460 | Parkinson sekunder | G 21 |
| 1461 | parotitis | K11.2 |
| 1462 | partus imaturus | O47.0 |
| 1463 | partus kasep | O63.0 |
| 1464 | partus kobrojal | O62.3 |
| 1465 | partus lama | O63.2 |
| 1466 | Paru/lobus luluh akibat TB | B 90.9.1 |
| 1467 | pasang sepiral | Z30.1 |
| 1468 | pasca oferictomi | Z90.7 |
| 1469 | pasiccsomatis | F45.9 |
| 1470 | PAT | I47.1 |
| 1471 | Patek (Frambusia) | A 66 |
| 1472 | Pelayanan yang melibatkan gangguan prosedur prosedur rehabilitasi | Z 50 |
| 1473 | pelvic peritonisis | N73.5 |
| 1474 | Pemaparan bising | W 42 |
| 1475 | Pemaparan getaran | W 43 |
| 1476 | Pemaparan radiasi pengion | W 88 |
| 1477 | Pemaparan radiasi pengion lain | W 90 |
| 1478 | Pemaparan radiasi YTT | W 91 |
| 1479 | Pemaparan sinar ultra violet dan man-mide visible | W 89 |
| 1480 | Pemasangan dan penyesuaian gigi palsu | Z 46.3 |
| 1481 | Pemasangan dan penyesuaian kacamata dan lensa kontak | Z 46.0 |
| 1482 | Pemeriksaan kesehatan bayi dan anak secara rutin | Z 00.1 |
| 1483 | Pemeriksaan kesehatan umum | Z 00.0 |
| 1484 | pendarahan anus | K62.5 |
| 1485 | pendarahan gusi | K06.8 |
| 1486 | pendarahan infra kranial PIK | D75.9 |
| 1487 | pendarahan intra abdomen | R58 |
| 1488 | pendarahan intra cranial | D75.9 |
| 1489 | pendarahan pasca menopouse | N95.0 |
| 1490 | Pendarahan pasca persalinan | O 72 |
| 1491 | pendarahan post op | T18.0 |
| 1492 | pendarahan tali pusat bayi | P51.9 |
| 1493 | pendarahan umbilicoli | P51.9 |
| 1494 | pendarahn pons | I61.3 |
| 1495 | penelitis | H46 |
| 1496 | penemo thorax | J93.9 |
| 1497 | penemo torax acut /cronik | J93.8 |
| 1498 | penemunia deastinum bayi | P25.2 |
| 1499 | penemunia disdtinum | J98.2 |
| 1500 | Pengawasan kehamilan dengan risiko tinggi | Z 35 |
| 1501 | Pengawasan kehamilan normal | Z 34 |
| 1502 | Pengelolaan kontrasepsi | Z 30 |
| 1503 | Penunjang sarana kesehatan untuk alasan Lainnya | Z 31 - Z 33, Z 37,Z 55 - Z 99 |
| 1504 | Penyakit alat kelamin laki lainnya | N 44 - N 46 N 48 - N 51 |
| 1505 | Penyakit Alzheimer | G 30 |
| 1506 | Penyakit apendiks | K 35 - K 38 |
| 1507 | Penyakit arteri, arteriol dan kapiler lainnya | I 71 - I 72, I 77 - I 79 |
| 1508 | Penyakit bakteria lainnya | A 21, A 24-28 A 31-32, A 38, A 42-49 |
| 1509 | Penyakit bibir, mukosa mulut lainnya dan lidah | K 13 - K 14 |
| 1510 | Penyakit cacing tambang | B 76 |
| 1511 | Penyakit Crohn dan tukak kolitis | K 50 - K 51 |
| 1512 | Penyakit de Quervain | M 65.4 |
| 1513 | Penyakit Divertikel usus | K 57 |
| 1514 | Penyakit esofagus, lambung dan duodenum lainnya | K 20 - K 23, K 28, K 31 |
| 1515 | Penyakit glomerulus lainnya | N 02.0 -.7,.9,N03, N 05 - N 08 |
| 1516 | Penyakit gondok nontoksik lain | E 04 |
| 1517 | Penyakit gusi, jaringan periodontal dan tulang alveolar | K 05 – K 06 |
| 1518 | Penyakit hati akibat bahan beracun di tempat kerja | K 71 |
| 1519 | Penyakit Hati Alkohol | K 70 |
| 1520 | Penyakit hati lainnya | K 74.0 - .5, K 75, K 76.1-.5, .8, .9, K 77 |
| 1521 | Penyakit hemolitik pd janin & bayi baru lahir | P 55 |
| 1522 | Penyakit hidung dan sinus hidung lainnya | J 30.0 - J 30.2, J 33, J 34.0 - .3 |
| 1523 | Penyakit hipertensi lainnya | I 11 - I 15 |
| 1524 | Penyakit Hodgkin | C 81 |
| 1525 | Penyakit infeksi dan parasit kongenital | P 35 - P 37 |
| 1526 | Penyakit infeksi dan parasit lainnya | A 65, A 67, A 69, A 74, B 85 - B 89, B 94 - B 99 |
| 1527 | Penyakit infeksi usus lainnya | A 02, A 04 - A 05 A 07 - A 08 |
| 1528 | Penyakit jantung iskemik lainnya | I 20, I 23 - I 25 |
| 1529 | Penyakit jantung lainnya | I 27 - I 41, I 51- I 52 |
| 1530 | Penyakit jantung reumatik kronik | I 05 - I 09 |
| 1531 | Penyakit jaringan keras gigi lainnya | K 03 |
| 1532 | Penyakit jaringan lunak mulut (Stomatitis) dan lesi yang berkaitan | K 12 |
| 1533 | Penyakit kelenjar liur | K 11 |
| 1534 | Penyakit klamidia yg ditularkan melalui hubungan seksual | A 55 - A 56 |
| 1535 | Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya | L 10 - L 22, L 25 - L 99 |
| 1536 | Penyakit lain mata dan adneksa | H 57 - H 59 |
| 1537 | Penyakit Parkinson | G 20 |
| 1538 | Penyakit pembuluh darah perifer lainnya | I 73.1 - .9 |
| 1539 | Penyakit pulpa dan periapikal | K 04 |
| 1540 | penyakit radang panggul PRP | N94.9 |
| 1541 | Penyakit radang susunan saraf pusat | G 00 - G 09 |
| 1542 | Penyakit saluran napas bagian atas lainnya | J 36 - J 39 |
| 1543 | Penyakit serebrovaskular lainnya | I 65 - I 69 |
| 1544 | Penyakit sistem cerna lainnya | K 82 - K 83, K 87 - K 93 |
| 1545 | Penyakit sistem kemih lainnya | N 25 - N 29, N 31 - N 39 |
| 1546 | Penyakit sistem muskuloskeletal dan jaringan ikat | M 87 - M 99 |
| 1547 | Penyakit sistem napas lainnya | J 22, J 66.1 -2, J 66.8, J 94 - J 99 |
| 1548 | Penyakit sistem sirkulasi lainnya | I 86 - I 99 |
| 1549 | Penyakit susunan saraf lainnya | G 10 - G 13, G 22 - G 26, G 90 - G 91, G 93 - G 99 |
| 1550 | Penyakit telinga dan prosesus mastoid | H 60 - H 61.0-.3,.9, H 62, H 83.8, .9, H 92 - H 95 |
| 1551 | Penyakit tertentu yang menyangkut mekanisme imun | D 80 – D 89 |
| 1552 | Penyakit tonsil dan adenoid kronik | J 35 |
| 1553 | Penyakit tubulo-interstitial ginjal lainnya | N 10 - N 11, N 13, N 14.0-2. .4, N 15 - N 16 |
| 1554 | Penyakit usus dan peritoneum lainnya | K 52 - K 55, K 59 - K 67 |
| 1555 | Penyakit virus gangguan defisiensi imun pada manusia (HIV) | B 20 - B 24 |
| 1556 | Penyakit virus lainnya | A 81, A 87 - A 89 B 25, B 27 - B 34 |
| 1557 | Penyulit awal trauma tertentu dan penyulit pembedahan dan perawatan YTK di tempat lain | T 79 - T 88 |
| 1558 | Penyulit kehamilan dan persalinan lainnya | O 20 - O 23, O 25 - O 29 |
| 1559 | Penyulit yang lebih banyak berhubungan dengan masa nifas dan kondisi obstetrik lainnya, YTK ditempat lain | O 85 - O 99 |
| 1560 | Perawatan dan pemeriksaan pasca persalinan | Z 39 |
| 1561 | Perawatan ibu yang berkaitan dengan janin dan ketuban dan masalah persalinan | O 31 - O 39 O 41, O 43, O 47 |
| 1562 | percoban bunuh diri ( gantung diri) | Z91.5 |
| 1563 | Perdarahan antepartum YTK ditempat lain | O 46 |
| 1564 | Perdarahan intrakranial | I 60 - I 62 |
| 1565 | pereleukemia | D46.9 |
| 1566 | pereplegia | G52.2 |
| 1567 | perforasi ileum/usus | K63.1 |
| 1568 | peri penopose bleeding | N92.1 |
| 1569 | periapendicitis | K37 |
| 1570 | pericardial Effusi | I31.3 |
| 1571 | periodentitis acut | K05.2 |
| 1572 | peritonisis difusi | K65.0 |
| 1573 | peritonisis generalized | K65.0 |
| 1574 | peritonitis | K65.9 |
| 1575 | peritonsilaer abses | J36 |
| 1576 | Perlemakan hati | K 76.0 |
| 1577 | perodenitis cronic | K05.3 |
| 1578 | perporasi jejunum | K63.1 |
| 1579 | perporasi kolon sigmoid | K63.1 |
| 1580 | perpurasi MAC | H66.9 |
| 1581 | Persalinan dengan penyulit gawat janin | O 68 |
| 1582 | Persalinan macet | O 64 - O 66 |
| 1583 | Persalinan multipel | O 84 |
| 1584 | Persalinan prematur | O 60 |
| 1585 | Persalinan tunggal spontan | O 80 |
| 1586 | persiapan CT scen | G81.9 |
| 1587 | persistensi gigi | K00.6 |
| 1588 | Pertumbuhan janin lamban, malnutrisi janin dan gangguan yang berhubungan dengan ke-hamilan pendek dan berat badan lahir rendah | P 05 - P 07 |
| 1589 | pertusis | A37.9 |
| 1590 | Pertusis/Batuk rejan | A 37 |
| 1591 | phymosis | N47 |
| 1592 | Piotoraks [empiema] | J 86 |
| 1593 | pisikosis organik | F09 |
| 1594 | placenta pravia bayi | P02.0 |
| 1595 | Plak pleural | J 92 |
| 1596 | Plasenta previa | O 44 |
| 1597 | plaura pnemunia | J18.8 |
| 1598 | plebitis | I 80.9 |
| 1599 | plegmoa | K10.2 |
| 1600 | pleura efusi | J90 |
| 1601 | PNC | N11.8 |
| 1602 | pnemonia lobaris | J18.1 |
| 1603 | pnemu torax | J86.9 |
| 1604 | pnemunia antipical | J15.7 |
| 1605 | pnemunia sapirasi | J69.0 |
| 1606 | Pneumokoniosis | J 60 - J 65 |
| 1607 | Pneumonia | J 12 - J 18 |
| 1608 | Pneumonitis Hipersensitivity akibat abu organik | J 67 |
| 1609 | Pneumotoraks | J 93 |
| 1610 | PNH ( parokimal noctumal hemoglobimuria) | D59.5 |
| 1611 | poli artritis | M13.0 |
| 1612 | policetimia vera | D45 |
| 1613 | policystic pam | J98.4 |
| 1614 | polidektili | Q69.9 |
| 1615 | polimialgia | M35.3 |
| 1616 | polineurpati | G62.9 |
| 1617 | Poliomielitis akut | A 80 |
| 1618 | polip cervikes | N84.1 |
| 1619 | polip endumetrium | N84.0 |
| 1620 | polip gaster | D13.1 |
| 1621 | polip gaster /stomach | D13.1 |
| 1622 | Polip gastrointestinal | D 12.6 |
| 1623 | polip nasi | J33.9 |
| 1624 | polip recti | K62.1 |
| 1625 | polip rectum | K62.1 |
| 1626 | pollip nasi | J33.8 |
| 1627 | polmunal stenosis | Q25.6 |
| 1628 | polmunari congestion | J81 |
| 1629 | porforasi sigmoid | K63.1 |
| 1630 | porforasi usus | K63.1 |
| 1631 | porfurasi ileum | K63.1 |
| 1632 | porpurasi gaster | K31.9 |
| 1633 | portionisilair infiltrat | J36 |
| 1634 | post concusison syndrome | F07.2 |
| 1635 | post congital bleding | N93.0 |
| 1636 | post op apendictomy | Z98.8 |
| 1637 | post op strumectomy | Z98.8 |
| 1638 | post sigmoidectomy | Z93.3 |
| 1639 | post vcolostomy | Z93.3 |
| 1640 | post veginal repair | O34.8 |
| 1641 | PPOM | J44.9 |
| 1642 | pre eklamsia brat | O14.1 |
| 1643 | pre eklamusia ringan | O14.9 |
| 1644 | prematur | O60 |
| 1645 | prematur bayi | P07.3 |
| 1646 | Prepusium berlebih, fimosis dan parafimosis | N 47 |
| 1647 | PRM | O42.9 |
| 1648 | proktitis | K62.8 |
| 1649 | prolap uteri | N81.4 |
| 1650 | Prolaps alat kelamin perempuan | N 81 |
| 1651 | prolaps anus | K62.9 |
| 1652 | prolaps colostomy | K91.4 |
| 1653 | prolaps iris | S05.2 |
| 1654 | prolaps mata | T85.3 |
| 1655 | prolaps tali pusat | O34.5 |
| 1656 | prolaps usus | K63.4 |
| 1657 | prolaps uteri ( tunggal pagiana) | N81.4 |
| 1658 | prolongud leten fase | O63.9 |
| 1659 | propthosis | H05.2 |
| 1660 | protatitis | N41.9 |
| 1661 | protenosis alveuler | J84.0 |
| 1662 | prtonisis TBC | A18.3+ K673* |
| 1663 | PSA ( pendarahan sub arachnoid | I60.9 |
| 1664 | psaudar throsis | M84.1 |
| 1665 | pseudophkia | Z93.1 |
| 1666 | psikosis | F29 |
| 1667 | Psoriasis dan artropati enteropati | M 07 |
| 1668 | Psoriasis dan atropati lainnya | M 10 - M 11 |
| 1669 | psoriasis pustular | L40.1 |
| 1670 | psoriasis vulgenis | L40.0 |
| 1671 | psudo pteregium | H11.8 |
| 1672 | pteregium | H11.0 |
| 1673 | PTG ( penyakit tropobles ganas) | O01.9 |
| 1674 | ptisisc bulbi | H02.4 |
| 1675 | ptosis | H02.4 |
| 1676 | PUD | N93.8 |
| 1677 | pulmunal insufiensi | J98.4 |
| 1678 | PVC bigemini | I27.9 |
| 1679 | pyalolitasi | N20.0 |
| 1680 | pyelonepritis | N12 |
| 1681 | pyelonepritis acut | N10 |
| 1682 | pyolonepritis kronik | N11.9 |
| 1683 | pyoneprosus | N13.6 |
| 1686 | RA | M06.9 |
| 1687 | rabies | A82.9 |
| 1688 | Rabies | A 82 |
| 1689 | Radang alat dalam panggul perempuan lainnya (adneksitis) | N 71, N 74, N 75.8 - N 77 |
| 1690 | Radang kelopak mata | H 00 - H 01 |
| 1691 | Radang panggul perempuan lainnya | N 73 |
| 1692 | Radang serviks | N 72 |
| 1693 | ranala | K11.6 |
| 1694 | RBBB | I44.7 |
| 1695 | RDS | P22.0 |
| 1696 | reactur hepatitis | K75.2 |
| 1697 | reaksi anaphilactic | T78.2 |
| 1698 | reaksi conversi | F44.9 |
| 1699 | reaksi convrsi | F44.9 |
| 1700 | reaksi hipoglekimia | E16.0 |
| 1701 | reaksi stress acut | F43.0 |
| 1702 | Reaksi terhadap stres berat dan gangguan penyesuaian, gangguan somatoform, gangguan neurotik lainnya | F 43.0, F 43.2-.9 F 45, F 48 |
| 1703 | rebtomysarcoma cruris dextra | C49.1 |
| 1704 | rectal bleeding | K62.5 |
| 1705 | rectal bleeding bayi | P54.2 |
| 1706 | recto vagianal fistula | N82.3 |
| 1707 | reflex esofagus | K21.9 |
| 1708 | reflix esofagus | K21.0 |
| 1709 | reftur palpebra | S05.8 |
| 1710 | reftur tendon flexon digit | S56.1 |
| 1711 | refture alvecler | K06.8 |
| 1712 | refture artery | I77.2 |
| 1713 | refture tuba | N83.8 |
| 1714 | refture vagina | S31.4 |
| 1715 | ren mobilis | N28.8 |
| 1716 | renal colix | N23 |
| 1717 | renal fail | N19 |
| 1718 | renal nsipiensi | N19 |
| 1719 | reptum perineum (post partum ) | O70.9 |
| 1720 | reptun pancereas traumatik | S36.2 |
| 1721 | reptur bola mata | S05.3 |
| 1722 | reptur cornea dengan prolap | S05.2 |
| 1723 | reptur cornea tampa prolaps | S05.3 |
| 1724 | reptur hepas | S36.1 |
| 1725 | reptur injuri tendon aciles | S86.0 |
| 1726 | reptur tendon | T14.6 |
| 1727 | reptur uretra non traumatik | N36.8 |
| 1728 | reptur uretra traumatik | S09.2 |
| 1729 | repture uteri | O71.1 |
| 1730 | resiko ifeksi | Z91.5 |
| 1731 | respirasi puradokal | |
| 1732 | respiratory distress bayi | P22.9 |
| 1733 | respiratory failure | J96.9 |
| 1734 | respiratory failure bayi | P28.5 |
| 1735 | rest. Placenta ( sisa placenta) | O72.0 |
| 1736 | retantio urine | R33 |
| 1737 | retar dasi mental | F79 |
| 1738 | Retardasi mental | F 70 - F 79 |
| 1739 | retensi urin | R 33 |
| 1740 | retino blastoma | C96.2 |
| 1741 | retractile testis | Q55.2 |
| 1742 | retraksi contas | H52.0 |
| 1743 | retropertioneal | K66,8 |
| 1744 | revtur VE | N22 |
| 1745 | RHD | I09.9 |
| 1746 | rhematoid | M06.9 |
| 1747 | rhinitis | J31.0 |
| 1748 | rhino paringitis | J00 |
| 1749 | robekan jalan lahir | S31.4 |
| 1750 | Rubela | B 06 |
| 1751 | ruftur muscolorum | T14.6 |
| 1752 | rufture lenkideney/ gijal | S37.0 |
| 1753 | rumah terbakar | N09.0 |
| 1754 | ruptur sclera | S05.3 |
| 1758 | sacro lleitis | M46.1 |
| 1759 | SAH ( sub aranoid hemoragic) | I60.9 |
| 1760 | salah letak | O32 |
| 1761 | Salpingitis dan ooforitis | N 70 |
| 1762 | Sampar/Pes | A 20 |
| 1763 | SAP ( stable anggia pastoris) | I20.9 |
| 1764 | sarcoma lengan | D21.1 |
| 1765 | sarcoma utery | C55 |
| 1766 | SBE | J33.0 |
| 1767 | SBP ( spontan bacterial peritonitis) | A49.9 |
| 1768 | schizoprenia | |
| 1769 | schwarte paru | J98.4 |
| 1770 | scizur abdomen penetrane | S31.8 |
| 1771 | scondery arrest | O62.1 |
| 1772 | scrof uloderma | A18.4 |
| 1773 | Sebab luar lainnya | W 20 - W 41, W 44 - W 64, |
| 1774 | secclusio | H21.4 |
| 1775 | seclusion pupil | |
| 1776 | sectio | O82.9 |
| 1777 | secundarcan | K04.3 |
| 1778 | Sekuele (gejala sisa) lepra | B 92 |
| 1779 | Sekuele (gejala sisa) poliomielitis | B 91 |
| 1780 | Sekuele (gejala sisa) TB lainnya | B 90.0 - .8 |
| 1781 | Seleksi antenatal | Z 36 |
| 1782 | selmonikosis | A02.0 |
| 1783 | seminoma testis | C62.9 |
| 1784 | Sengaja mencederai diri dengan bahan beracun | X 60 - X 69 |
| 1785 | Sengaja mencederai diri lainnya | X 70 - X 84 |
| 1786 | Senilitas | R 54 |
| 1787 | sepsis bayi | P06.9 |
| 1788 | sepsis puerperalis | O85 |
| 1789 | sepsis seunatrium | P36.9 |
| 1790 | septic arteriris | M00.9 |
| 1791 | septic syok | A14.9 |
| 1792 | septicemia | A41.9 |
| 1793 | septikaimia | A41.9 |
| 1794 | Septisemia | A 40 - A 41 |
| 1795 | sesak | R06.0 |
| 1796 | SH ( struke hemorage) | I61.9 |
| 1797 | shigeloss | A03.9 |
| 1798 | shock anaphylatic | T78.2 |
| 1799 | shock hyvopelemic | R57.1 |
| 1800 | shymlaeparon | N11.2 |
| 1801 | Sifilis bawaan | A 50 |
| 1802 | Sifilis dini | A 51 |
| 1803 | Sifilis lainnya | A 52 - A 53 |
| 1804 | Sigelosis | A 03 |
| 1805 | sincope | N55 |
| 1806 | Sindrom amnesik dan gangguan mental organik | F 04, F 07, F 09 |
| 1807 | sindrom dendy walcer | Q03.1 |
| 1808 | Sindrom Down | Q 90 |
| 1809 | Sindrom hepatorenal | K 76.7 |
| 1810 | Sindrom makan, gangguan tidur, disfungsi seksual, gangguan perilaku lainnya | F 50 - F 59 |
| 1811 | Sindrom mati mendadak pada bayi | R 95 |
| 1812 | Sindrom nefritik progresif cepat dan akut | N 00 - N 01 |
| 1813 | Sindrom nefrotik | N 04 |
| 1814 | Sindrom obstruksi pasca TB | B 90.9.2 |
| 1815 | Sindrom paralitik lainnya | G 81 - G 83 |
| 1816 | Sindrom salah perlakuan | T 74 |
| 1817 | Sindrom usus ringkih (Irritable bowel syndrome) | K 58 |
| 1818 | Sindroma carpal tunnel | G 56.0 |
| 1819 | Sindroma Raynaud’s | I 73.0 |
| 1820 | sindrome batang otak | I64 |
| 1821 | sindrome concusion | F07.2 |
| 1822 | sindrome migren | G43.9 |
| 1823 | sindrome vena cava | I87.1 |
| 1824 | sinostis nasi | J32.9 |
| 1825 | sinus brodycardia | R00.1 |
| 1826 | sinus hati | J32.9 |
| 1827 | sinus preacular | Q18.1 |
| 1828 | Sinusitis kronik | J 32 |
| 1829 | sircumsisi | Z41.2 |
| 1830 | Sirosis hati | K 74.6 |
| 1831 | Sistitis | N 30 |
| 1832 | skin tag | L98.9 |
| 1833 | Skistosomiasis (Bilharziasis) | B 65 |
| 1834 | Skizofrenia, gangguan skizotipal, psikotik akut dan sementara | F 20, F 21, F 23 |
| 1835 | Sklerosis multipel | G 35 |
| 1836 | SLE | L93.0 |
| 1837 | snake bite | T63.0 |
| 1838 | SNH ( struke non hemorage) | I63.9 |
| 1839 | socet dangkal | |
| 1840 | sock cardiogenic | R57.0 |
| 1841 | SOL | R900 |
| 1842 | Soliausis | M41.9 |
| 1843 | Solusio plasenta | O 45 |
| 1844 | solutio placenta | O43.3 |
| 1845 | SOP | R90.0 |
| 1846 | spina bepida | Q05.9 |
| 1847 | Spina bifida | Q 05 |
| 1848 | spondilitis | M46.9 |
| 1849 | Spondiloartropati seronegatif | M 45 - M 49 |
| 1850 | spondilolisthesis | M43.1 |
| 1851 | spondilosis | M47.9 |
| 1852 | squemus cell ca.orbita | C69.9 |
| 1853 | Supraventricular tachycardia | I47.1 |
| 1854 | staghum stone ( calculus) | N20.0 |
| 1855 | Status Asmatikus | J 46 |
| 1856 | status asmeticus | J46 |
| 1857 | status convcilisive | G44.0 |
| 1858 | status epileptikus | G41.9 |
| 1859 | stenosis jejunum | |
| 1860 | stenosis oni | Q64.3 |
| 1861 | stenosis pylorus | |
| 1862 | stenosis spinalis | M48.0 |
| 1863 | stenosis ureter | N35.9 |
| 1864 | stomatitis | K12.1 |
| 1865 | Strabismus | H 49 - H 50 |
| 1866 | strees ulcer | K27.9 |
| 1867 | stres ulcus | K27.9 |
| 1868 | stricture ani/anus | K62.4 |
| 1869 | stricture uretra | N35.9 |
| 1870 | Strok tak menyebut perdarahan atau infark | I 64 |
| 1871 | stroke | I64 |
| 1872 | stroma hipertiroid | E05.2 |
| 1873 | stroma hypertyroid | |
| 1874 | stroma nodusa | E04.9 |
| 1875 | struma difuse tocxic | E05.0 |
| 1876 | struma multi nodusa | E04.2 |
| 1877 | struma nodusa hypertiroid | E05.2 |
| 1878 | struma nodusa non toxix | E04.9 |
| 1879 | struma nudusa toxix | E05.1 |
| 1880 | struma systic | E04.2 |
| 1881 | struma uni nadular non toxic | E04.1 |
| 1882 | STU parn | D14.3 |
| 1883 | sub dural hematoma non traumatik | |
| 1884 | sub dural hematoma SDH | |
| 1885 | sub dural hematoma traumatik | |
| 1886 | sub endo miocard | I51.9 |
| 1887 | sub endocaroio infarak | I21.4 |
| 1888 | suden death | R96.0 |
| 1889 | Sumbatan vaskular retina | H 34 |
| 1890 | sumbilofiron | H11.2 |
| 1891 | SVT ( supra venticuler tachicandila) | I47.1 |
| 1892 | sympus | Q74.2 |
| 1893 | syncope | R55 |
| 1894 | syndaktily | Q70.9 |
| 1895 | syndrom vertevro basiler | G45.0 |
| 1896 | syndrome barre guillain SGB | G61.0 |
| 1897 | syndrome extra pramidal | G25.9 |
| 1898 | syndrome frontal lobe | |
| 1899 | syndrome migrain | G43.9 |
| 1900 | syndrome nefhrotic | N04.8 |
| 1901 | syndrome otak organik | F06.9 |
| 1902 | syndrome vertebro basiler | G45.0 |
| 1903 | synechia/perlekatan mata | H21.5 |
| 1904 | syock | N57.9 |
| 1905 | sypilis | A53.9 |
| 1907 | tacicandia | R00.0 |
| 1908 | tacom | A71.9 |
| 1909 | talasemia | D56.9 |
| 1910 | tali pusat menimbung | P02.4 |
| 1911 | tatto | L81.8 |
| 1912 | tenggelam dikali | W70.0 |
| 1913 | tension head ache | G44.2 |
| 1914 | Terdedah asap, api dan uap | X 00 - X 09 |
| 1915 | Terdedah faktor alam | X 30 - X 39 |
| 1916 | tertimpa besi | W20.0 |
| 1917 | Testis tidak turun | Q 53 |
| 1918 | tetanus ( cephalic) | A35 |
| 1919 | Tetanus lainnya | A 34 - A 35 |
| 1920 | Tetanus neonatorum | A 33 |
| 1921 | tetanus neunatrium | A33 |
| 1922 | tetralogi falot | Q21.3 |
| 1923 | thalogasus | M31.4 |
| 1924 | thypoid fefer /abdominalis | A01.0 |
| 1925 | thyroglosal persistent | O89.2 |
| 1926 | TIA | G45.9 |
| 1927 | Tidak ada, atresia dan stenosis usus halus | Q 41 |
| 1928 | TIK | G93.2 |
| 1929 | Tiroiditis | E 06 |
| 1930 | tiroiditis hasimoto | E06.3 |
| 1931 | Tirotoksikosis (hipertiroidisme) | E 05 |
| 1932 | tismus | R25.2 |
| 1933 | tismus bayi | A33 |
| 1934 | to eccipital | D33.0 |
| 1935 | Toksik insefalopati | G 92 |
| 1936 | Toksoplasmosis | B 58 |
| 1937 | tonsilitis acut | J03.9 |
| 1938 | Tonsilitis akut | J 03 |
| 1939 | tonsilitis cronic | J35.0 |
| 1940 | tonsilo phanngitis | J06.8 |
| 1941 | torsi tersis D | N44 |
| 1942 | torticolis | M43.6 |
| 1943 | total blok | J45.9 |
| 1944 | traceitis acut | J04.1 |
| 1945 | traceomalacea | J39.8 |
| 1946 | Trakoma | A 71 |
| 1947 | transien synoritis | M67.3 |
| 1948 | traptorasre/tetraplegia | G82.5 |
| 1949 | trauma ginjal | N28.9 |
| 1950 | trauma pelvis | S39.0 |
| 1951 | Tripanosomiasis | B 56 - B 57 |
| 1952 | Tuberkulosis (TB) paru BTA (+) dengan/ tanpa biakan kuman TB | A 15.0 |
| 1953 | Tuberkulosis alat napas lainnya | A 16.3 - .9 |
| 1954 | Tuberkulosis lainnya | A 18.1, .3 - .8 |
| 1955 | Tuberkulosis milier | A 19 |
| 1956 | Tuberkulosis paru lainnya | A 15.1 - A 16.2 |
| 1957 | Tuberkulosis susunan saraf pusat lainnya | A 17.1 - .9 |
| 1958 | Tuberkulosis tulang dan sendi | A 18.0 |
| 1959 | Tukak lambung dan duodenum | K 25 - K 27 |
| 1960 | tumor anus | D12.9 |
| 1961 | tumor ceacum | D12.0 |
| 1962 | tumor gaster | D13.1 |
| 1963 | tumor glutea | D36.7 |
| 1964 | tumor glutea malignom | C76.3 |
| 1965 | tumor gusi | D48.0 |
| 1966 | tumor kantong empedu | D13.1 |
| 1967 | tumor labio mayora | C51.0 |
| 1968 | tumor laring ( paru) | D14.1 |
| 1969 | tumor mata | C69 |
| 1970 | tumor maxilla | D16.4 |
| 1971 | tumor meilum | O36.7 |
| 1972 | tumor orbit | D31.6 |
| 1973 | tumor ovari | O27 |
| 1974 | tumor palatum | C05.9 |
| 1975 | tumor parotis ( preaucular) | D11.0 |
| 1976 | tumor soft tissue ( ganas) | C49.0 |
| 1977 | tumor sub mandibula | D11.7 |
| 1978 | tumor tulang dada IGA | D36.7 |
| 1979 | tyrotoxi cosis | E05.9 |
| 1980 | Ulcus mucosa hidung & perforasi septum nasi | J 34.8 |
| 1981 | Urolitiasis | N 20 - N 23 |
| 1982 | Varisela (cacar air) dan zoster (herpes zoster) | B 01 - B 02 |
| 1983 | Varises esofagus | I 85 |
| 1984 | Haemorrhage, not elsewhere classified( pendarahan) | R58 |
| 1985 | Varises vena ekstremitas bawah | I 83 |
Langganan:
Komentar (Atom)